Pengalamanku Wawancara Bu Lurah

Assalamualaikum, kali ini aku akan melanjutkan cerita trilogi pengalaman wawancaraku. Seri satu berjudul Pengalaman Wawancara Pak RT dan yang ketiga berjudul Pengalaman Wawancara Pak Camat.

Oke, kita mulai saja kisah nyatanya! 😀

Suatu siang aku pergi untuk wawancara lurah, ini adalah pengalaman yang kedua. Ditemani dengan ibuku. Perjalanannya melewati hutan-hutan yang masih cukup lebat. Ketika aku dan umiku masuk kantornya, aku kaget, ternyata jalan di dalam kantor lurahnya kecil dan agak sempit.

Pas sampai, aku bingung mana Pak Lurah. Ternyata yang menjadi lurah adalah seorang ibu-ibu. Dan aku akan mulai cerita wawancaraku ke bu Lurah.

Bu Lurah, “Nama kamu siapa?”

Aku, “Husein”

Bu Lurah, “Kelas berapa? Sekolah dimana?”

Aku pun menjawabnya

Bu Lurah, “Jadi sekarang mau ngapain?”

Aku, “Mau wawancara, lagi ikut kelas ***. Dapat tugas wawancara lurah”

Bu Lurah, “Ya sudah, silahkan mulai”

 

Aku, “Nama ibu siapa?”

Bu Lurah, “Misrin* Wa*i”

 

Aku, “Ibu jadi lurah tahun berapa?”

Bu Lurah, “4 Mei 2011”

 

Aku, “Tinggal di sini udah berapa tahun?”

Bu Lurah, “42 tahun”

Aku, “Lama juga ya bu”

Bu Lurah, “Iya”

 

Aku, “Di Bala**an nggak ada RW-nya kah bu?”

Bu Lurah, “Nggak ada”

 

Tahu tidak kenapa aku tanya itu? Soalnya aku sebetulnya mau wawancara Pak RW, tapi ternyata Se-Bala**an nggak ada RW-nya loh. Yuk, lanjut ke pertanyaanku selanjutnya,

 

Aku, “Kantor Lurah dibangun tahun berapa sih bu?”

Bu Lurah, “2009”

 

Aku, “Ibu asli mana?”

Bu Lurah, “Asli sini, asli Bala**an”

 

Aku, “Ibu ada kerja lain nggak selain jadi Lurah?”

Bu Lurah, “Nggak ada, ibu jadi Lurah aja”

 

Aku, “Ibu usianya berapa tahun?”

Bu Lurah lalu menjawabnya

Aku, “Oh gitu”

 

Aku, “Di Par***in tempat bersejarah dimana aja sih bu?”

Bu Lurah, “Ibu sih nggak tahu juga”

 

Aku, “Ibu tinggalnya dimana?”

Bu Lurah, “Dekat lokasi ini”

 

Aku, “Jadi Lurah itu gampang nggak sih bu?”

Bu Lurah, “Hmm, susah-susah gampang sih”

Aku tidak tanya apa susahnya menjadi Lurah dan gampangnya jadi Lurah, yang penting aku sudah tahu kalau jadi Lurah itu susah-susah gampang.

 

Aku, “Kantor Lurah masuknya jam berapa sih bu?”

Bu Lurah, “Kalau Senin-Kamis jam 08.00-05.30, hari jum’at beda lagi jamnya.”

Oiya, di dekat kursi Bu Lurah ada sebuah lemari yang di atasnya banyak piala. Aku pun bertanya piala apa itu. Ini dia pertanyaanku soal pialanya,

 

Aku, “Bu itu piala apa sih?”

Bu Lurah, “Oh, itu piala dari berbagai lomba. Itu juga ada piagam penghargaan”

Aku, “Wow”

Setelah memberi 13 pertanyaan, aku minta foto dan cap dari ibu Lurah. Dan ini adalah salah satu fotonya

 

 

Foto cap ibu Lurah

Wawancara Bu Lurah

Nah, setelah itu aku dan ibuku pun pulang. Oiya aku juga dikasih segelas aqua minum dan 3 donat yang aku suka. Sekian dulu artikel kali ini, mungkin lebih pendek ya dari dua artikel wawancara lainnya.

Oke, Wasalamualaikum warah matullahi wabaraktuh!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *