Sultan Thaha Syaifuddin

Assalamualaikum, sekarang aku mau cerita tentang sejarah hidupnya Sultan Thaha Syaifuddin.

Sultan Thaha Syaifuddin naik tahta pada tahun 1855, ia membatalkan sebuah perjanjian yang dilakukan pendahulunya kepada Belanda. Termasuk ayahnya sendiri loh, Sultan Fahruddin.

Belanda tahu kalau Sultan Thaha Syaifuddin batalin sebuah perjanjian, akhirnya Belanda mengirim pasukan dengan 30 kapal perang, banyak juga ya! Sultan pun juga menyiapkan pasukannya dan menyerang benteng yang ada di Jambi.

Karena Sultan sedang sibuk berperang, Belanda mengangkat putranya yang berumur tiga tahun menjadi putra mahkota dan yang mendampinginya ada dua orang yang memihak kepada Belanda. Jadi Belanda bermaksud mengadu domba, tetapi Belanda tidak berhasil!

Belanda hanya punya satu pilihan saja, yaitu berperang secara ksatria. Jadinya Belanda mengirim pasukan dari Magelang dan lewat Semarang juga Palembang.

Tahun 31 Juni 1901 pasukan yang datang mendapatkan perlawanan sengit oleh sultan di Surolangun. Tapi Belanda belum juga menyerah, Belanda terus mengejar sampai ke pedalaman!

Belanda akhirnya berhasil menemukan markas sultan di Sungai Aro, disitu terjadi perlawanan sengit, akhirnya Sultan Thaha Syaifuddin dan beberapa pasukan yang masih selamat lolos.

Ada dua orang panglima Sultan Thaha Syaifuddin yang wafat di pertempuran itu, namanya Jonang Buncit dan Berakim panjang. Ya! nama kedua panglima yang gugur itu adalah Jonang Buncit dan Berakim Panjang.

Belanda masih terus mengejar Sultan beserta pasukannya, tetapi di setiap pertempuran ia tidak pernah tertangkap atau terbunuh. Dia akhirnya wafat di desa bernama Muara Tebo tahun 26 April 1904, usianya waktu itu adalah 88 tahun!

Selama hidupnya itu, Sultan Thaha Syaifuddin selalu berperang. Bahkan lama sekali waktu pertempurannya, yaitu 50 tahun! Lama ya waktu pertempurannya.

Tentu untuk waktu selama itu ia didukung oleh para rakyatnya, tapi itu saja tidak cukup dong, Sultan Thaha Syaifuddin memiliki alat-alat perang yang cukup memadai.

Sumber: Pahlawan Indonesia

Penulis: Yudhistira Ikranegara

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *