Sultan Agung Hanyokrukusumo, Pahlawan Pemberani

Sultan Agung Hanyokrukusumo, sudah pernah mendengarnya belum? Yang jelas dia juga masuk dalam jajaran pembela Indonesia, pengusir Belanda dari Indonesia. Penasaran? Selamat membaca!

Sultan satu ini lahir di Yogyakarta, tepatnya di Kotagede. Pada tahun 1591 Masehi. Mempunyai ayah yang juga menjadi raja kedua Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas Hadi Dyah Banawati. Ia sendiri menjadi Sultan untuk menggantikan ayahnya pada tahun 1613 Masehi.

Nama aslinya sendiri adalah Raden Mas Jatmika. Sebenarnya Sultan Agung putra siapa ada dua pendapat. Satunya lagi mengatakan ia Putra dari Raden Mas Damar atau Pangeran Purbaya. Dikatakan kalau Pangeran Purbaya melakukan tukar bayi yang dilahirkan oleh istrinya dengan bayi yang dilahirkan oleh Dyah Banawati. Entahlah, mana yang benar.

Sultan Agung sendiri menjadi raja Mataram Islam ketiga. Disebut Mataram Islam supaya membedakan dengan kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah.

Sultan Agung memiliki 2 musuh yang berada di Jawa Barat, mereka adalah orang Belanda dan Sultan Ageng Tirtayasa. Sehingga, Sultan Agung menundukkan kerajaan-kerajaan yang di dekat pinggiran Jawa. Misalnya Lasem, Pasuruan, Tuban, Madura dan Surabaya.

Supaya tidak terjadi pemberontakan, Sultan Agung membangun kedekatan dengan mereka. Akhirnya, kerajaan taklukkannya menjadi nyaman di bawah Sultan Agung.

Suatu hari, Sultan Agung meminta agar pasukan Belanda membantu Sultan karena mau mengalahkan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Namun Belanda mengetahuinya, jadinya Belanda tidak mau membantu. Mereka hanya ingin mengadu domba kedua sultan itu.

Tahun 1628, Sultan Agung mengerahkan 50 kapal untuk menguasai sebuah benteng milik Belanda, itu pasukannya hanya bersenjata tombak, pedang dan panah saja. Eh, Belanda malah mengirim 2.886 pasukan, jadinya pasukan Sultan Mataram ini kalah.

Setahun berikutnya yaitu tahun 1629 pasukan Sultan Agung datang lagi. Mereka semua sekarang memiliki persenjataan lebih baik, yaitu pasukan-pasukan berkuda dilengkapi dengan gajah-gajah, juga meriam dan perbekalan yang cukup banyak.

Oiya, nama benteng yang hendak Sultan kuasai adalah benteng Hollands. Akhirnya benteng itu berhasil direbut pasukan Sultan Agung Hanyokrukusumo. Tapi sayang sekali, benteng itu tidak berhasil dipertahankan pasukan Sultan Agung.

Alasannya adalah gudang makanan mereka diketahui oleh mata-matanya musuh, jadinya dibakar. Sultan Agung dan pasukannya terpaksa menyerah.

Selama hidupnya, Sultan Agung tidak ingin berdamai dengan Belanda. Hingga akhirnya, pada tahun 1645 Sultan Agung Hanyokrukusumo wafat. Padahal saat itu hendak terjadi penyerangan lagi ke Benteng Belanda untuk ketiga kalinya. Dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta. Nama pemakamannya adalah Komplek Pemakaman Raja Mataram.

Kepemimpinan pun diberikan kepada anaknya yang bernama Sunan Mangkurat I. Sepeninggal ayahnya, anaknya akhirnya mengadakan perdamaian dengan Belanda. Itu dia kisah hidupnya Sultan Agung Hanyokrukusumo.

Baca juga : Sultan Thaha SyaifuddinSultan Hasanuddin dan Thariq bin Ziyad

Sekian dulu artikel tentang pahlawan Indonesia, Sultan Agung Hanyokrukusumo kali ini, Wassalamu’alaikum warrah matullahi wabarakatuh!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *