Qais bin Saad, Salah Satu Orang Dermawan di Masanya

Qais bin Saad

Sudah lama tidak membahas shiroh sahabat Nabi. Yups, nama diatas adalah salah satu sahabat nabi. Yaitu Qais bin Saad bin Ubadah. Iya, dia masih masuk keluarga Saad bin Ubadah!

Pada saat perang Shiffin (Muawiyah bin Abu Sufyan VS Ali bin Abu Thalib) sendiri, Qais hampir menggunakan kecerdasannya untuk mengalahkan pasukan Muawiyah. Dan pendukung Muawiyah juga akan hancur. Tapi, ia lebih memilih tidak melakukannya.

Dah, gak usah pake lama lagi. Ayo kita langsung ke artikelnya! Selamat membaca!

Kisah Qais bin Saad

Seperti yang ditulis di pembukaan. Ia berasal dari salah satu keluarga Arab yang Rasulullah pernah bersabda, “Kedermawanan adalah ciri keluarga ini”. Qais memiliki kecerdikan yang penuh oleh rekayasanya, terampil dan juga cerdas.

Ia pernah berkata, “Kalau bukan karena Islam, pastilah aku membuat sebuah tipu daya dan kurang mudah dilawan oleh seluruh Arab”. Kedudukannya di sisi Nabi setingkat dengan kepala keamanan di sisi wali (tingkat gubernur).

Ada salah satu kisah pendek yang lumayan menarik tentangnya. Yuk, baca kisahnya!

Pada suatu hari Qais bin Saad memberi pinjaman yang lumayan banyak pada seorang saudaranya yang miskin. Beberapa waktu kemudian, saudaranya itu hendak membayar utangnya. Tapi Qais berkata, “Kami tidak pernah menerima kembali sesuatu yang sudah diberikan”.

Kendali kedermawanannya terletak di tangan kanannya. Maka dari itulah, ia juga meletakkan keberanian dan kepahlawanan di tangan tersebut. Keberaniannya masih terus dijalani bahkan sampai Rasulullah wafat.

Pada masa Khulafaur Rasyidin keempat (Ali) ia menjadi gubernur di Mesir. Muawiyah yang ingin mendapat baiatnya, sengaja mengadu domba Ali & Qais. Karena adu domba itulah, ia jadi diturunkan dari jabatan tersebut. Namun sahabat Nabi ini tetap merasa biasa saja.

Saat Ali wafat, Qais beserta lima ribu pengikutnya mengangkat pedang sebagai bentuk duka atas kepergian khalifah tersebut. Namun, al-Hasan lebih memilih membaiat Muawiyah, supaya perang saudara dengan cepat terhentikan.

Akhirnya, Qais pun meminta pendapat pengikutnya. Antara berjuang sampai mereka meninggalkan dunia ini ataukah ia berdamai demi keselamatan. Pengikutnya lalu memilih opsi kedua. Sahabat dermawan inipun membaiat Muawiyah.

Muawiyah pun girang. Karena ia sudah terbebas dari orang yang paling kuat dan paling berbahaya jika dihadapi di medan tempur.

Wafatnya

Madinah, 59 Hijriah. Adalah tahun wafatnya sahabat nabi yang dermawan ini. Ialah seorang lelaki yang pernah berujar, “Andai aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Rekayasa dan tipu daya itu di neraka’ pastilah aku sudah melakukan tipu daya diantara umat ini”.

Qais pun wafat dengan damai. Seorang lelaki yang cerdik, jujur, dermawan dan pemberani.

-Tamat-

Bagaimana? Menarik bukan kisah tentang orang satu ini? Tentu saja menarik lah! Hampir tidak ada kisah sahabat Nabi yang kurang menarik. Karena di setiap kisahnya mempunyai hikmah sendiri-sendiri.

Baca juga : Abu Thalhah Al-Anshari & Dhihya bin Khalifah

Sekian dulu artikel ini. Semoga semakin menambah wawasan bagi siapapun yang membacanya. Sampai ketemu di artikel-artikel baru lainnya! Wassalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *