Legenda Biru : Lokasi Kedua (Vol 6)

“Kamu beruntung lawan pertamamu adalah aku! Kalau kamu tidak bisa mengendalikan kekuatan itu, musuh diluar sana akan memanfaatkanmu! Dan Legenda Biru akan dibuktikan oleh orang lain.”

Di pertarungan kunci perak, sebenarnya Kris sudah bisa memanfaatkan kekuatan galaksinya. Tapi itu cuman sekedar melayang dan melesat. Padahal ketika melawan John, sampai muncul bintang-bintang.

Anak berbadan tinggi itu disuruh Kris mengajarkan kepada tiga temannya bagaimana caranya memanfaatkan kekuatan dengan baik. John kali ini ingin melatih kekuatan galaksi Kris. Masalahnya, jika tidak terlatih itu bisa membahayakan pertempuran.

Karena tidak keluar juga, dia menggunakan pengalaman sebelumnya. Ia berunding dengan Hamzah dan Ali. Awalnya dua orang itu tidak setuju. Tapi John mengungkapkan alasannya, akhirnya mereka sepakat.

Besoknya, empat orang ini berkumpul. “Baiklah Kris, persiapkan dirimu oke?” kata Hamzah

“Tentu saja. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengeluarkannya”

“Iya memang, tapi kalau begini bagaimana” Ali mengeluarkan busur itu dan langsung menghancurkan busur elemen. Hamzah dan John terkejut.

Apa yang kamu lakukan… busur itu baru diperbaiki kemarin… kembalikan.. benda itu!!

“Kris! Kendalikan dirimu!” teriak John

***

Di sebuah alam

Kris bingung dengan sekelilingnya. Bukankah tadi ia sedang latihan bersama teman-temannya? Tiba-tiba ada sebuah suara, “Ini adalah alam bawah sadarmu. Sekarang aku sedang mengendalikan dirimu karena kamu masih memiliki kesedihan karena kehilangan keluargamu.

“Kamu Shadow kan!? Apa maksudmu!?”

Hilangkanlah kesedihanmu itu. Katakanlah kepada dirimu sendiri, kalau aku bersyukur masih bisa hidup untuk mencari dimana keluargaku.”

Kris termenung, tiga puluh menit sudah terlewati. Ia berkata lagi, “Oke, aku sudah selesai! Tujuanku yang sebenarnya sekarang adalah mencari Biru dan menjadi ilmuwan terhebat!!”

Shadow berjalan kearahku kemudian menjabat tanganku “Sekarang kuakui kamu sebagai pemilikku. Kendalikanlah kekuatanku sampai tingkat tertinggi.”

Pemuda itu akhirnya tersadar, ia melihat wajah khawatir di sekelilingnya. “Hei! Sudah sadar? Maaf ya sudah menghancurkan busurmu. Sebenarnya kami sudah mempersiapkan cadangannya yang semirip mungkin dengan versi aslinya.”

Kris langsung mengambil panahnya kemudian ia mengucapkan sebuah jurus, “Kristal Meteor.” Batu yang menjadi sasaran tembak pun hancur tidak bersisa.

“Kamu sudah bisa mengeluarkannya? Itu hebat!” ucap Hamzah senang. Kris hanya mengangguk, kemudian John mengajak mereka untuk lanjut latihan.

Setelah berlatih selama lima hari, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Di buku disebutkan tempat dimana kunci perak kedua berada. Sebuah gunung yang tingginya nomor dua di negeri ini.

***

Akhirnya kami tiba, langsung dibagian puncaknya. Tapi tidak ada tanda-tanda bagunan diatas sini. Meski Hamzah mengucapkan kata seperti sebelumnya, tidak muncul juga portal itu. Tiba-tiba, alat pelacak Ali berbunyi, dan itu mengarah kedalam lubang gunung.

Empat orang anak itu akhirnya bekerjasama memasang alat pelindung panas gunung berapi. Layangan mulai mengecil sesuai lubang gunung dan masuk perlahan-lahan.

Bunyi lava serta asap yang mengepul sudah mulai terlihat. Kami masih terbang perlahan kedalam. Dan lihatlah, didepan kami tinggal lava yang mengalir. Mau kemana lagi kita?

“Hei mungkin ideku ini aneh. Tapi bagaimana kalau kita menyelam kesana?” usul Hamzah

“Disana itu lava, kamu mau menyelam bagaimana?” jawab John

“Tapi tidak buruk juga. Sebelumnya kita menyelam kedalam laut kemudian muncul portal.” kata Kris

Sebelum kami bergerak kesana, Ali melihat sesuatu yang aneh diantara dinding gunung. “Eh tunggu, kita kesebelah sana dulu. Menurutku tempatnya ada disana.”

Karena ide itu lebih bagus dibanding menyelam ke lava, kami langsung bergerak kesana. Ternyata benar-benar ada sebuah ruangan disana.

Akhirnya tiba di lokasi kunci perak kedua

***

Luas bangunannya sebanding dengan lokasi pertama yang ada dibawah laut. Bedanya, suhu disini terasa panas. Penjagaannya juga berbeda, salah satu yang terbanyak adalah rintangan lava.

Tidak ada sinar laser disini, sebagai gantinya yang berlewatan adalah batu-batu gunung berapi. Ini malah lebih mengerikan. Seperti biasa, kami harus menyusun rencana terlebih dahulu. Ruangan yang dijaga rapat lebih sedikit, cuman ada dua.

Karena ruangan pertama harus melewati sungai lava selebar 40 meter, kami langsung lompat ke ruangan kedua.

Ali berjalan di depan, karena perisai kubahnya berguna untuk melewati batu-batu beterbangan ini. Rintangan kedua, lebih sulit.

Awalnya John berjalan didepan. Tapi begitu melewati ‘ruangan’ kedua, ia seperti kehabisan napas. Kris dengan cepat menyambar tubuhnya. Iya, rintangan kedua adalah ruangan tanpa udara.

Ini tidak bisa diretas seperti sebelumnya, kode pelindungnya terlalu kuat. Satu-satunya solusi adalah melewatinya dengan ‘normal’.

“Kalau begitu, kita melewatinya dengan pergerakan cepat. Kris membawa Hamzah dan aku membawa Ali” usul John

“Ide bagus”

John merangkul bahu Ali, empat puluh detik kemudian mereka sudah ada disisi sebelah. Kris dan Hamzah juga berhasil melewatinya.

“Lihat, langsung memasukkan kata sandi.” tunjuk John

Tapi ternyata, kodenya bukan menggunakan huruf-huruf. Melainkan memakai suara. Masalahnya, mereka harus memasukkan suara yang ditimbulkan akibat serangan Si Brilian dengan Si elemental pertama.

“Ya ampun, gimana ini. Ada yang tahu tidak bagaimana suaranya?” John cemas, sementara mesin itu mulai berkedip orange. Waktu tersisa tiga menit. Jika tidak ada jawaban, baru bisa dibuka lima belas jam kemudian.

Mereka menatap mesin itu, sudah dua menit. Karena cemas Kris tanpa sadar menyentuh tanah dan secara tiba-tiba, sebuah ingatan sedang terputar disana.

Semua yang ada disana, menyaksikan tayangan itu. Lebih tepatnya, dibagian pertarungan Si brilian. Sementara itu, si mesin hanya menangkap bagian suaranya.

Pintu besar itu terbuka. Kris terkejut melihatnya, “Eh, kamu bisa memecahkan kata sandinya John?”

“Heh, aku tidak melakukan apa-apa. Kekuatanmu lah yang melakukannya”

Kris masih terheran-heran. Hamzah akhirnya memutus kesenyapan itu dengan merangkul tiga temannya untuk segera masuk.

***

“SIAPA KALIAN! BERANI-BERANINYA MASUK KESINI” sebuah suara bergema di ruangan itu

Empat anak itu sempat terkejut, tapi mereka nyengir melihat benda didepan mereka. Sebuah robot yang sama seperti lokasi bawah laut. Kabar bagusnya, dibelakang si robot terlihat sebuah kunci perak.

Tanpa basa-basi mereka langsung maju menyerang, daripada nanti terdesak duluan. Sayangnya, badan si robot sangat keras. Sedangkan benda berwarna silver itu sudah mengeluarkan kekuatannya.

Bukan laser, tapi langsung serangan lava. Cairan itu sudah tersebar kemana-mana, mereka berempat berusaha menghindarinya sebisa mungkin.  Seakan belum cukup, benda silver itu mengeluarkan serangan elemental lain, Tornado Api.

“Ya ampun, kita terdesak lagi. Berikutnya kita harus mengenali lingkungan sekitarnya dan menyiapkan formasi lebih awal.” Hamzah mendengus kesal

Kris nyengir mendengarnya, sedangkan dua lainnya mengangguk-angguk. Sistemnya juga tidak bisa diretas, teknologi pelindungnya terlalu canggih.

Sepuluh menit berdiskusi, kami sepakat untuk melindungi diri memakai cara masing-masing. Ali kini berperan sebagai pendukung. Dia mengeluarkan alat dan memasangnya di tangannya. Sebuah alat pengendali.

Alat itu mulai mengendalikan tornado api secara perlahan-lahan. Sedangkan Kris mulai melesatkan anak panah es lagi. Dan Hamzah terus memukul si robot. Pusat rencana mereka kali ini lagi-lagi bergantung ke John.

Anak itu sedang mempersiapkan posisi menyerang lurus. Tubuhnya sudah diselimuti baju pelindung dan pedangnya memancarkan sinar biru.

Kris sudah berseru untuk serangan serempak. Ali mengarahkan tornado api kearah jalur serangan John dan anak itu melesat menembusnya. Begitu keluar, sinar yang terpancar berubah menjadi merah. Hamzah juga ikut menyerang dari atas.

Si robot juga membalas serangan dua arah itu. Dua puluh lima detik kemudian, inti dari benda silver itu sudah terambil.

“Bagaimana… kalian bisa.. mengambilnya..”

“Itu gampang. Serangan Hamzah itu dimaksudkan agar bagian tubuhmu menjadi melunak sedikit. Aku tahu kamu punya program untuk melunakkan tubuh, dan programnya ada dibagian kepala.” jelas Ali

Tidak lama kemudian, benda silver itu sudah jatuh ke tanah. Kris segera melangkah ke arah kunci perak kedua. Begitu diambil, tiba-tiba ada suara bergema.

“JADI KALIAN YANG MEMBUAT RINTANGAN ITU MENJADI MUDAH! BERIKAN KUNCI PERAK ITU”

Mereka berempat serempak menoleh ke belakang. Dan lihatlah, ada sepuluh orang dengan pakaian hitam berlambangkan phoenix biru.

John tahu siapa mereka. Kelompok ilmuwan dengan peringkat keempat dari lima besar ilmuwan terhebat di dunia.

Masalah baru telah muncul.

Kunci Perak pertama kali muncul disini : Legenda Biru (Vol 4)

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 7)