Legenda Biru : Pertemuan yang Mengejutkan (Vol 9)

“Perintah raja : Persiapkan delapan komandan pasukan elit untuk menghadang kelompok yang mencari kunci perak keempat. Tujuannya menghalangi mereka membuktikan Legenda Biru kepada dunia!” seseorang berseru dengan lantang

Orang-orang yang mendengarnya langsung tenggelam dalam kesibukan. Mereka ini adalah para komandan yang dipanggil tadi.

“Menteri, apakah raja juga ikut dalam penghadangan ini?” tanya seseorang

“Tidak, raja tidak ikut. Delapan komandan pasukan elit sudah cukup untuk menghentikan mereka.” jawab sang menteri

Delapan orang sudah bersiap. Waktunya membuka portal yang tertutup selama tiga puluh tahun. Menunggu di lokasi kunci perak keempat.

***

“Apa? Tidak diberi tahu dimana lokasinya?” Kris tekejut mendengar perkataan John kemarin

“Iya, mungkin supaya tidak ada lagi yang bisa mengambil Biru. Apalagi si elemental pertama.” jawab John

Kris termangu mendengar nama itu. Hamzah menyikut lengan John, “Eh maaf Kris, aku tidak-”

“Tidak apa-apa kawan, justru aku malah heran kenapa si elemental pertama yang langsung turun tangan. Seberbahaya itukah klan Panah Biru bagi dia.” Kris memotong perkataan temannya

John hanya nyengir. Ali yang berjaga di kemudi ikut percakapan itu, “Lalu kita kemana sekarang?”

Yang ditanya hanya mengangkat bahu. Akhirnya mereka memutuskan mengikuti saja layangan ini mau terbang kemana. Meski ke kutub pun tidak masalah. Tiba-tiba layangan ini terjatuh, ada masalah eror di bagian kodenya.

Kendaraan ini akhirnya tersungkur di tanah. Begitu keluar, kami menatap sekeliling. Rupanya lokasi jatuhnya ada di hutan.

“Ini aneh, padahal belum setahun sudah ada masalah eror. Pasti ada yang sengaja merusaknya” ucap Ali kesal

Kris memutuskan memasukkan layangan itu kedalam kotak terlebih dahulu. Memperbaikinya bisa nanti-nanti saja. “Ali, kalau dugaan kamu seperti itu, lebih baik kita melihat sekitar terlebih dahulu.”

Semua akhirnya sepakat dan mereka berjalan beriringan. Lima belas menit kami berjalan, tidak ada yang aneh.  Tapi begitu kami memutuskan berhenti, Hamzah menunjuk kearah sebuah pohon besar. Tadi dia seperti melihat sesuatu yang aneh.

Ternyata dugaannya benar, sebuah portal terlihat disana. Kami memasukinya bersamaan. Dan tanpa kami duga, inilah lokasi keempat sang kunci perak.

***

“Hei lihatlah, struktur bangunan ini mirip seperti bangunan kunci perak pertama dan kedua kan?” tanya Ali

Kami melihat sekeliling, benar juga kata Ali. Tapi anehnya, kami tidak melihat satupun rintangan. “Harusnya ada harimau atau singa disini” gurau Hamzah.

Karena tidak ada rintangan sama sekali, kami mencoba membuka empat ruangan yang kemungkinan disanalah kunci perak berada.

Ruangan kesatu lagi-lagi perpustakaan, ruangan kedua cuman ada puluhan robot yang sudah rusak. Mungkin dulu ini difungsikan sebagai pusat pertahanan. Seperti yang kami duga, ruangan ketiga tempat penyimpanan senjata. Bedanya disini cuman ada tombak dengan dua ujung tajam.

Kami sudah siap untuk bertempur. Begitu Kris membuka pintunya, sebuah sambaran petir tiba-tiba muncul. Reflek kami terlompat ke belakang.

“Hahaha, selamat datang di ruangan keempat. Bocah-bocah pemberani” ucap si komandan satu, pemimpin kelompok

“Kalian tidak akan bisa mengambil kunci ini tanpa izin kami” balas komandan kedua

Tiga komandan lainnya mengangguk-angguk, sementara tiga sisanya tetap berdiri terdiam sambil menatap sinis.

“Heh, siapa kalian! Seenaknya saja mengagetkan kami dengan sambaran petir!” seru John

“Ya ampun, bocah ini benar-benar tidak tahu sedang bicara dengan siapa??” ledek komandan ketiga

John kesal, dia langsung maju menyabetkan pedangnya. Orang yang meledeknya hanya menundukkan kepala kemudian melanjutkan perkataannya, “Dan lihatlah, dia berani menyerang kita. Bahkan mereka tidak memperkenalkan diri.”

Teman-teman si komandan ketiga tertawa. Sementara sang pemimpin kelompok hanya tersenyum. Hamzah kali ini ikutan kesal, dia melompat menyerang komandan keempat.

Yang menjadi sasarannya menangkap tangan anak itu dengan mudah, tapi dia mundur satu senti dari tempat asalnya berdiri. “Bocah, tenagamu lumayan hebat, bisa membuatku mundur satu senti. Sebagai balasan, kupatahkan tulangmu ini.”

Sebelum orang itu melaksanakannya, Kris segera melesat menyambar Hamzah kemudian kembali ke barisan mereka.

“Formasi” bisik Kris kepada teman-temannya. Dan tiga temannya mengangguk.

***

Kali ini mereka langsung menerapkan strategi yang sudah dirancang tadi. Tidak ada pertarungan empat lawan satu, karena lawannya juga pintar bekerjasama.

30 anak panah melesat, sementara Ali terbang mengikutinya. Dia memakai elemen salju untuk membuat jurus, “Anak Panah : Es bersalju”

Si pemimpin dan komandan kedua membuat perisai biru perak yang kokoh. Sementara itu tiga orang melompat keluar mengeluarkan jurus petir. Dentuman keras terdengar akibat dua elemen yang bertubrukan.

John dan Hamzah menggunakan jurus perpaduan. Si pengguna pedang menyerang duluan, kemudian dari bawah Hamzah melancarkan pukulan elemen.

Tiga komandan yang tersisa tidak mau kalah, mereka saling menyelaraskan gerakan. Membuat sebuah tarian pedang. Suara berdentum tendengar lagi.

Di sisi Kris dan Ali,

“Kristal Meteor : Laser Salju”

“Tiang petir yang berganda”

Tiga komandan itu menyerang dan melindungi diri dengan kompak. Begitu Kris dan Ali menembakkan serangan, dua dari mereka membuat perisai. Kemudian dilanjutkan tiga-tiganya melancarkan serangan petir.

Di sisi pertarungan John dan Hamzah, malah berjalan seimbang. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat perisai. Tapi para komandan itu membayarnya dengan serangan pedang yang tiada henti.

Teknik bela diri Hamzah membelokkan semua serangan itu menggunakan elemen anginnya. Jadi tangannya tidak perlu sampai berdarah-darah.

“Teknik rahasia : Awan hitam yang menyambar”

Suara dentuman terdengar lebih keras. Serangan perpaduan John dan Hamzah berhasil mengenai telak satu orang komandan.

Karena tinggal berdua, lawannya mempercepat serangannya. Saking cepatnya, sebuah lingkaran dengan gerigi terbentuk. John dan Hamzah terkejut, gerakan itu sebenarnya cuman berputar-putar saja. Tapi karena digunakan oleh yang ahli, gerakan berputar itu tidak diam ditempat saja.

Dua anak itu tidak mau kalah, mereka kali ini menggunakan bentuk busur. John menerjang lurus dan Hamzah melompat kemudian menggunakan kakinya untuk menyerang membentuk setengah lingkaran.

Ini menjadi pertarungan gerigi vs busur. Bagaimanakah hasil akhirnya? Apakah Kris dan teman-temannya berhasil mengoleksi kunci keempat?

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 10)