Legenda Biru : Tiba di Klan Terkuat (Vol 8)

“Hamzah, menurutmu rintangan apa yang akan kita temui?” tanya Kris

“Menurutku, rintangannya adalah berdiplomasi” jawab Hamzah asal

“Tapi itu bisa juga sebagai rintangan. Kalau kita tidak memilih kata dengan baik, dalam sekejap kita sudah berdiri di luar gerbangnya” ujar Ali

“Dan lihatlah, kita sudah tiba” tunjuk John

Mereka bertiga serempak melihat kedepan. Itu adalah lambang klan terkuat di dunia. Seorang ksatria yang lagi menarik pedang peraknya. Sebelum empat orang anak itu masuk, tiba-tiba muncul sebuah robot pengenal identitas.

Kris berjalan ke belakang dengan lesu, wajahnya tidak dikenali. Begitu pula Hamzah dan Ali. Sekarang giliran John.

“Wajah dikenali. Silahkan masuk dengan membawa tiga orang ini.”

Begitu gerbang dilewati, Kris bertanya ke John, “Kenapa robot tadi mengenali wajahmu?”

Yang ditanya hanya nyengir mendengarnya, “Nanti juga tahu”

***

Kami berempat bertemu dengan orang-orang anggota klan ini. Tujuan kami langsung menemui kepala klan. Wilayah Ksatria Putih ini benar-benar luas, mungkin sebanding dengan luas wilayah klan Panah Biru. Akhirnya Kris dan teman-temannya tiba di bangunan tujuan.

“Siapa kalian dan mau apa?” tanya penjaga

“Kami mau menemui kepala klan” jawab Kris

Sebelum si penjaga melanjutkan perkataannya, John langsung mengangkat tangannya. Orang itu akhirnya mengizinkan mereka berempat masuk.

Ruangan di dalamnya tidak semegah bagian luar. Cuman ada empat kamar dan satu ruangan besar untuk pertemuan anggota.

“Lihatlah, kita kedatangan tiga orang tamu dan satu anggota inti kita.” sebuah suara berwibawa terdengar

John menundukkan badannya memberikan hormat. Sementara temannya hanya berdiri terdiam.

“John, sudah puas kamu berpetualang diluar sana? Jadi kamu memutuskan kembali kesini?”

“Belum ketua. Kami kesini untuk meminta harta pusaka klan kita. Kunci perak ketiga.” jawab John

Orang itu terdiam sejenak. Sementara Kris, Hamzah dan Ali masih berdiri mematung menunggu hasilnya.

“Oiya, kenapa kalian bertiga diam saja? Tidak perlu tegang begitu. Dan namaku Hariz, panggil saja ketua klan” ujar orang itu

“Eh iya. Namaku Kris dan mereka adalah Hamzah dan Ali”

Suasana kembali lengang. Tiba-tiba, si ketua klan berdiri menuju sebuah tembok. Dia mengetuk-ngetuknya tiga kali. Tembok itu berputar dan memperlihatkan sisi dibaliknya. Sebuah lemari penyimpanan buku.

Orang dengan usia tiga puluh lima tahun itu mengambil sebuah buku kemudian membuka-buka halamannya. Setelah sampai di halaman yang diinginkannya, dia menaruh buku itu di hadapan kami berempat.

Dan si ketua klan mulai membacakan isi halaman itu dengan lantang. Sebuah sejarah tentang empat klan besar. Kami menyimaknya dengan seksama, kalau kata John, inilah ujian pertamanya.

***

1000 tahun lalu, ada empat klan besar yang hidup dengan damai. Klan Ksatria Putih, Panah Biru, Naga Hijau dan Robot Merah.

Di masa itu, cerita tentang pertarungan si brilian melawan sang elemental pertama masih terdengar dimana-mana. Padahal 1000 tahun sudah berlalu.

Seratus tahun kemudian, sang elemental pertama muncul lagi ke permukaan dengan 900 anak buahnya. Karena tidak ada lawan yang setara, dia memicu perang di berbagai tempat. Empat ketua melakukan pertemuan. Mereka sepakat untuk melawannya bersama-sama.

Pertempuran terjadi di udara, laut dan dunia milik si elemental pertama. Anggota masing-masing klan saling bekerjasama menghancurkan musuhnya.

Pertarungan puncak terjadi, empat ketua melawan si elemental pertama. Tapi itu berjalan tidak seimbang. Dengan memakai Biru yang masih tertinggal, lawannya diatas angin.

Ketua klan Robot Merah melakukan langkah nekad. Dia mencuri Biru ketika si elemental pertama tidur. Orang itu menyadari apa yang terjadi.

Sebelum dia mengambil alih kembali, Biru sudah tersegel dan baru bisa dibuka 100 tahun kemudian. Untuk membukanya, dibutuhkan lima kunci perak yang tersebar ke berbagai tempat.

Sang elemental pertama murka. Empat ketua klan kerepotan. Ketua Naga Putih mengusulkan sebuah ide pembentukan formasi. Formasi ini hanya bisa digunakan jika empat orang anggota berbakat dari empat klan ini berkumpul.

Sang lawan terkejut melihatnya. Sinarnya terang tiada terkira. Si elemental pertama langsung terkalahkan begitu terkena serangannya. Tangan kirinya putus dan tidak bisa pulih kembali.

Tapi harga formasi itu tinggi. Ketua klan Naga Putih dan Robot Hijau gugur. Sementara dua sisanya kehilangan kedua tangannya.

Seakan belum cukup, lima tahun lalu seluruh anggota klan Panah Biru hilang dalam semalam. Dugaan kuatnya ada hubungannya dengan si elemental pertama.

***

Kami berempat terdiam mendengar cerita itu. Apalagi Kris, dia baru tahu masa lalu klannya seperti itu.

“Ketua?”

“Iya John”

“Eh, omong-omong tentang klan Panah Biru, Kris temanku adalah anggota mereka” jelas John

Orang itu melongo mendengarnya kemudian menatap Kris. Kemudian dia berseru, “Sungguh? Aku tidak tahu kalau anggota mereka masih ada. Apa kamu sudah bisa mengeluarkan jurus tertinggi klanmu? Seperti apa busur elemental itu?”

Kris hanya menggaruk kepalanya. Kemudian menunjukkan busur miliknya. Orang itu kembali berseru-seru senang. Kemudian dia melanjutkan bicaranya, “Baiklah, kalian lolos ujian pertamanya. Ujian kedua kalian sudah tahu bukan? Melawan robot”

Hamzah, Kris dan Ali menyeringai mendengarnya. Robot itu pasti pengguna pedang. Sama seperti anggota-anggota klan ini.

Si ketua klan mengetuk tembok lagi. Kali ini yang muncul adalah sebuah tangga. Dia menjelaskan setelah melewati ini, mereka akan langsung berhadapan dengan sang robot.

Setelah tiga temannya masuk, John bertanya ke ketuanya, “Ketua, mengapa kamu mengizinkan kami masuk semudah ini? Bukankah dulu lebih sulit ujiannya?”

“Karena aku tahu dari ekspresi wajah kalian. Kalian tidak ada niat jahat untuk berkuasa di atas dunia. Kalian hanya ingin berpetualang tapi tetap memperhatikan sekitar. Jadi kamu juga masuklah, siapa tahu dua dari mereka juga anggota empat klan besar itu” jelas Hariz

John tersenyum, “Terimakasih ketua”

***

Kami akhirnya tiba di bagian bawah, waktunya membuka pintu utama. Disana, terlihat sebuah robot sedang berdiri mematung dengan kunci perak dibagian dadanya. Rupanya strukturnya beda lagi. Inti robot ini adalah kunci perak itu.

Sebelum kami memasang posisi, si robot tanpa basa-basi langsung bergerak menyabetkan pedang besarnya. Empat anak itu langsung terpental ke belakang.

“Kalian lemah! Satu serangan biasa seperti itu langsung terpental ke belakang!” seru si robot

Hamzah mendengus. Diantara mereka berempat, dia lah yang paling kesal berhadapan dengan benda ini. Sebelum dia balas menyerang, John memegang bahunya, “Apapun kondisinya, kita tetap harus bekerjasama kawan.”

Penyusunan rencana kali ini tidak berada dalam kubah perisai. Tapi kami membawa sebuah mic kecil dan hanya bisa didengar oleh orang yang memakainya. Jadi, kami bisa sambil menghindar dan menyusun rencana. Rencana sudah selesai dibuat, waktunya melakukan.

John mengatasi pedang sang robot, dia menghindar kesana kemari membuat benda silver itu kerepotan. Kemudian Ali menghantamkan perisai miliknya ke badan si benda silver. Membuatnya terjatuh.

Ketika si robot hendak bangkit, Kris sudah melayang di atasnya. Menembakkan jurus kristal meteor. Suara berdentum sahut menyahut. Benda silver itu kembali jatuh ke tanah.

Puncaknya, Hamzah melompat keatas. Dia telah memusatkan serangannya ke tangan kanan, kemudian melesat tepat dibagian kunci perak. Sebelum robot itu bereaksi, lubang sedalam lima meter sudah terbentuk tepat dibagian inti.

Hamzah dan teman-temannya menunjukkan ekspresi senang. Kunci ketiga untuk membuktikan dan mendapatkan Biru, berhasil dikoleksi.

***

“Apa!? Mereka berhasil mengoleksi kunci ketiga? JANGAN MAIN-MAIN!” seseorang berteriak dengan lantang

“Iya Tuan”

Orang itu mendengus sejenak kemudian menyeringai, “Kalau begitu, kita yang akan muncul tepat di tempat kunci keempat, berada. Kita tidak akan membiarkan mereka membuktikan Legenda Biru kepada orang diluar sana.”

“Siap Tuan, elemental pertama” balas seseorang

Bagaimana kira-kira pertarungan antara si brilian dengan si elemental pertama? Lihat saja disini : Legenda Biru (Vol 5)

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 9)