Legenda Biru : Akhirnya Dimulai (Vol 2)

Aku terkejut dengan kedatangannya. Ia mau membantuku mencari Legenda Biru. Sahabatku yang awalnya ikut markas penelitian Elang Legendaris, muncul disini.

“Aku akan ikut pengembaraanmu mencari benda legendaris dan membantumu meraih mimpi sebagai ilmuwan terhebat” begitulah katanya

“Tapi bagaimana dengan markas EL? Bukankah kau salah satu dari mereka yang ikut memajukannya? Pikirkan lagi, Hamzah” aku tidak yakin dengan jawabannya

“Tenang saja, aku sudah diizinkan keluar” ia tersenyum

Dan akhirnya kami berdua meneliti bersama. Mempersiapkan teknologi untuk pengembaraan mencari benda itu.

Rencananya, kami akan membuat sebuah kendaraan yang bentuknya seperti layangan raksasa dan dikelilingi pelindung transparan. Dan sebuah kotak yang luarnya kecil tapi dalamnya luas. Ini berguna untuk menyimpan alat-alat penelitian selama perjalanan.

***

Kris menceritakan tentang mimpinya kemudian orang misterius yang masuk ke tubuhnya. Sahabatnya terkejut mendengar itu. Hamzah menjelaskan melalui buku yang dibacanya di markas LE, kalau orang misterius itu ada hubungannya dengan pengguna Biru 2000 tahun lalu.

“Tentang mimpimu, jangan-jangan cuman imajinasi saja?”

“Sepertinya tidak. Kamu tahu dulu aku pernah mendapat mimpi bisa menggunakan busur elemental. Dan hasilnya? Senjata itu menjadi andalanku.”

Hamzah akhirnya memilih diam. Sejak dulu, ia meragukan kisah-kisah Kris yang muncul di mimpinya. Menurutnya itu cuman mimpi tidur, tidak lebih. Karena itu, Hamzah selalu mengejek cerita-cerita yang berkaitan dengan mimpi tidur.

Sampai hari dimana sahabatnya mendapatkan busur elemental, tentu saja ia senang mendengarnya. Tapi, Kris bilang ketika malam ia mengalami mimpi mendapat busur itu. Hamzah tertegun, akhirnya ia tidak pernah lagi mengejek cerita-cerita sahabatnya.

“Heh Hamzah! Kenapa kamu melamun. Cepat bantu aku menyelesaikan ini kawan.” Dua sahabat itu akhirnya kembali sibuk dengan berbagai barang.

***

Bintang-bintang sudah tiba, kami memutuskan istirahat. Kris mengambil sebuah remote dan menekannya, sebuah tenda pun melesat keluar dari sana. Lokasi markas kami saat ini tidak jauh dari tempat Kris dilahirkan.

“Hamzah, menurutmu petualangan kita nanti ada berapa orang ya?”

Yang ditanya mengangkat bahu dan berujar, “Atau jangan-jangan aku masih belum cukup ya untuk menemani kamu melakukan petualangan?”

Kris tertawa mendengarnya kemudian menjawab, “Tentu saja cukup. Tapi lebih baik ada satu orang lagi untuk melengkapi persahabatan kita.”

Setelah tidur tiga jam, kami melanjutkan penelitian. Mungkin nanti pagi benda-benda ini sudah mengangkasa membawa kami.

Tapi kami berdua tidak sadar kalau ucapan Kris semalam sudah berubah menjadi doa. Dalam beberapa jam kedepan, ada seseorang yang mendatangi kami.

Akhirnya benda berbentuk kotak sudah selesai, ini benar-benar berguna untuk petualangan kami. Waktunya menyelesaikan kendaraan layangan ini. Karena terlalu besar, kami menambahkan dua tombol agar bisa membesar mengecil sesuai kemauan.

Setelah sarapan, dua anak itu mulai menguji coba peralatan. Mulai dari memasukkan alat-alat penelitian kedalam kotak biru. Menguji apakah layangan ini sudah bisa terbang tinggi.

Lima menit sudah layangan mengangkasa, masih lancar. Dimenit kedelapan, mulai bermasalah. Terbangnya malah tidak terkendali meski sudah disetir manual. Tidak bisa dihindari, benda biru hijau itu jatuh ke tanah. Kami hanya berpandangan kemudian tertawa, sepertinya ini lumayan kurang mudah.

Empat jam terlewati, akhirnya kendaraan layangan ini terbang, pelindung transparannya pun aktif tanpa ada masalah. Sekarang, waktunya bersiap untuk berpetualang.

“Hai! Tadi kulihat kalian menerbangkan kendaraan layangan, kalian mau kemana?”

“Kamu siapa?” Kris bertanya balik

“Aku Ali. Sepertinya kalian mau berpetualang, boleh ikut?”

“Tentu saja boleh” Hamzah menjawab duluan

“Eh Hamzah, kenapa kamu membolehkan dia ikut? Jangan-jangan orang ini mau memata-matai kita” bisik Kris

Hamzah melotot mendengarnya dan mengingatkan agar tidak berbisik-bisik bila ada tiga orang. Kris hanya nyengir mendengarnya.

“Apa aku boleh ikut?” Ali bertanya lagi

“Baiklah, mari kita bersiap-siap” Kris akhirnya mau menjawabnya

Anak bernama Ali itu mengeluarkan sebuah remote. Tidak berlangsung lama, sebuah layangan berwarna kuning biru hijau dengan corak bintang keluar.

Hamzah terpana melihatnya. Layangan itu lebih bagus dibanding buatannya dan sahabatnya. Ali menoleh kearah dua layangan didekatnya kemudian menambahkan hiasan seperti miliknya.

“Lihat, sekarang layangan kita bertiga terlihat bagus dan berwarna.”

Setelah persiapan selama empat puluh menit, kami menaiki layangan dan menekan tombol aktif. Dalam lima hitungan, tiga layangan sudah mengangkasa. Kendaraan ini kami atur supaya berjalan otomatis. Hanya dikendarai manual jika kondisi benar-benar terdesak.

“Hei, aku punya ide. Kita gabungkan tiga layangan supaya komunikasi berjalan lancar. Dipisahnya lagi jika pertempuran saja.” Ali memberikan usulnya dan langsung disetujui.

Penggabungan berlangsung selama tiga menit. Setelah selesai, kami memutuskan bergantian berjaga dibagian kemudi setiap tiga jam.

Di sela-sela perjalanan, kami membaca sebuah buku. Tertulis kalau benda bernama Biru ada di dunia lain. Jika ingin mendapatkannya, carilah lima kunci perak bercorak garis yang tersebar ke berbagai tempat.

Salah satu tempatnya, tertulis nama Pantai Pagatan di Kalimantan Selatan. Dan kami, tanpa berpikir panjang segera menuju kesana.

***

Akhirnya kami tiba, sekarang waktunya mencari dimana lokasi kunci perak berada. Tiba-tiba datang sekelompok orang, tanpa basa-basi mereka berseru, “Pergi dari sini! Ini wilayah kami!”

“Eh, tapi niat kami hanya ingin mencari kunci perak. Apa kalian tahu dimana itu?” Ali bertanya polos

“APA KAMU BILANG, HAH”

Kami bertiga saling berpandangan. Akhirnya Hamzah lah yang menjawabnya.

“JANGAN COBA-COBA MENGAMBILNYA SEBELUM KAMI!” sekelompok orang itu sekarang malah berteriak

Tanpa kami sadari, salah satu dari mereka sudah menyerang. Ali reflek mengeluarkan sebuah perisai teknologi dan membalas dengan tembakan laser. Akhirnya kami tahu berapa jumlah lawan, sekitar enam orang.

Lima lainnya turut menyerbu juga. Hamzah melawan dua orang dari mereka. Enam orang ini mengeluarkan sebuah pedang berwarna.

Di sisi pertarungan Ali, lawannya tampak kerepotan. Bukan main, serangan laser yang dikeluarkan dari alat yang muncul-sembunyi itu terlalu banyak. Sementara perisai biru dengan garis tepi warna perak ini belum hancur juga.

Lawannya akhirnya mengeluarkan senjata andalan. Pedang miliknya menjadi lebih panjang dengan cahaya warna biru disekitarnya. Ali terkejut melihat perubahan senjata si kacamata. Begitulah dia memanggil lawannya.

Serangan laser berhasil dilewati kemudian pedang panjang langsung mengarah ke perisainya. Karena cukup kencang, benda berwarna biru-perak itu langsung retak.

Ali tidak akan membiarkan perisainya pecah begitu saja. Serangan lasernya berubah menjadi biru dan diatur supaya menyerang zig zag. Pedang si kacamata terus berhantaman dengan serangan miliknya.

Tebasan biru penghancur baja” sebuah jurus tiba-tiba terucap dari mulut lawannya. Bersamaan dengan itu, gerakannya menjadi cepat dan menghantam keras perisai Ali.

Ali terhempas lima meter, untung saja dia tidak terluka. Waktunya menggunakan seluruh peralatan teknologiku.

Sementara di sisi lain, pertarungan Hamzah berlangsung sebentar. Dia menang telak sedangkan dua lawannya malah pingsan. Sedangkan Kris, berhasil mengatasi dua. Orang yang tersisa ternyata pemimpin dari kelompok ini.

Dua orang itu kembali saling tatap dengan napas yang terengah-engah. Lawannya bertanya sesuatu, “Kenapa kamu mencari kunci perak? Apa kamu juga tahu tentang Legenda Biru?”

Kris menatap wajah lawannya sejenak kemudian menjawab, “Tentu saja aku tahu. Bahkan buku yang membahas tentang itu milik klanku.”

Lawannya terdiam sejenak lalu tertawa, “Hahaha. Maksudmu klan yang sudah punah itu!?”

“Hati-hati dengan ucapanmu. Mereka belum punah, anggotanya cuman menghilang tiba-tiba.”

“Baiklah. Tapi siapa yang mau percaya”

Kris mengangkat bahu kemudian melanjutkan kata-katanya, “Tapi perlu kamu ketahui, klanku merupakan empat klan besar. Jangan sekali-kali meremehkan keluargaku.”

Lawannya tertawa kemudian dia memperkenalkan diri, John. Ia melanjutkan kalimatnya. Yang berisi nama klan keluarga Kris.

Bersambu ke : Legenda Biru (Vol 3)