Legenda Biru : Sang Pemenang (Vol 17)

Susunan persegi yang kami buat mulai bersinar. Secara perlahan, terbentuk sebuah siluet putih burung garuda. Ghadi juga membentuk sebuah siluet biru naga petir.

Dua menit kemudian, siluet burung garuda sempurna terbentuk. Kami mulai melepaskan formasinya perlahan-lahan. Setelah itu, cahaya putih ini kami lapisi ke senjata masing-masing.

Semua senjata langsung mengalami sedikit perubahan bentuk. Busur Kris menjadi biru keemasan dan dibagian anak panahnya terdapat simbol garuda. Pedang dan tombak juga memiliki nasib yang sama. Sedangkan Hamzah, tangannya dilapisi sarung tangan keemasan dengan bentuk garuda.

Satu menit penyesuaian diri, kami sudah menerjang lawan. Begitu juga Ghadi. Di belakang kami berlima terlihat siluet masing-masing. Kris mendapat siluet garuda emas, Hamzah hijau, John putih dan Ali merah.

“Naga petir pemusnah dunia : Bulan Petir”

“Garuda elemental : Ribuan Galaksi”

Suara berdentum meraung keras. Asap menutupi kelima orang itu. Dan mereka semua masih baik-baik saja.

Tanpa disadari, waktu sepuluh menit sudah habis. Seketika, langit memperdengarkan bunyi gemuruh. Lima meteor langsung turun ke arena pertempuran.

Jam di lingkaran itu mengarah ke angka empat lebih lima belas menit. Dua serangan lagi sudah cukup untuk mengakhiri pertempuran satu malam.

Mereka berempat tidak mempedulikan meteornya. Targetnya hanya satu, sang singa yang terengah-engah disana. Serempak, empat anak itu melompat berputar lalu melesat.

Ghadi lalu masuk kedalam portal dan muncul dari atas. Dan menerjang kebawah. Kris dan teman-temannya berpencar menghindar.

“Garuda galaksi : Bulan Terbelah!”

“Naga petir : Kemurkaan Naga”

Efek dari dua hantaman itu, dua meteor langsung meledak seketika. Membuat badai, tapi bagi para petarung itu merupakan penambah semangat.

Kali ini Kris dan teman-temannya melakukan sebuah tarian, membentuk jurus baru. Untuk menutup pertarungan. Satu meteor sudah meledak lagi, membuat badai tambah dahsyat.

Lima orang sudah melesat menantang badai. Ini persis seperti pertempuran lautan api dimana formasi serangannya sama.

Empat anak itu berseru mengucapkan jurusnya bersamaan, “Garuda Emas : Pelangi Elemental!!”

“Naga Petir : Ksatria Langit!”

Suara ledakan terdengar sangat keras, dua meteor yang tersisa langsung terkena efeknya. Dibalik asap, Kris dan teman-temannya berhasil menebas tangan kanan lawannya serta membuat leher sang singa berdarah.

Ghadi jatuh berlutut ke tanah. Seribu tahun lalu, dia juga berada pada posisi ini. Tapi bedanya sekarang kekuatan regenerasinya sudah mati karena lama tidak bertempur.

“Hebat… tapi kalian masih harus melawan… makhluk itu… yang sudah terlepas… dari segel… Nebula Merah… jadi kengerianku… tidak akan habis…”

Sepuluh detik kemudian, orang itu sudah jatuh berdebam ke tanah. Ali memandang sedih, berikutnya mereka bertekad tidak akan menghabisi lawannya sekejam apapun ceritanya.

Seharusnya, kisah ini berakhir bahagia. Tapi lima belas detik kemudian, Hamzah dan John jatuh berlutut. Dua anak itu memegangi dada mereka. Kris dan Ali panik melihatnya.

Tiba-tiba Karim muncul diantara mereka. Lalu menyembuhkan Hamzah dan John, lima belas menit berlalu dengan menegangkan. Akhirnya dua anak itu berhasil dipulihkan, mereka hanya perlu istirahat selama tiga hari penuh.

Bila Karim datang, tidak mungkin dia sendirian. Di belakang, teman dekatnya keluar dari portal. “Kalian hebat, bisa mengalahkan si elemental pertama.”

“Tapi, kami membunuhnya.” ujar Ali sedih

“Tidak mengapa. Dia memang harus mati, bila dibiarkan hidup maka korbannya semakin banyak. Oiya, Kris dimana buku coklat itu?” Kris lalu mengeluarkan kotak hitam penyimpanannya. Dan menarik buku yang dimaksud.

“Tersisa satu permintaan lagi, simpanlah buku itu baik-baik. Siapa tahu berguna untuk kartu andalan terakhir.” perintah Karim

Anak itu mengangguk. Kemudian bertanya kemana tujuan para naga kembar itu sekarang. Yang ditanya hanya menjawab untuk berpetualang ke berbagai tempat.

Para naga kembar itu sudah bersiap untuk memasuki portal teleportasi. Kris berseru agar mereka bisa bertemu lagi suatu hari nanti entah dimana. Mereka berdua mengangguk.

Kris dan Ali bahu membahu memakamkan si elemental pertama. Sepuluh menit kemudian, makam itu sudah selesai dibuat. Batu nisannya hanya mempertuliskan nama Si Jenius.

Dua anak berusia dua belas tahun itu memapah Hamzah dan John. Dalam sekejap empat anak itu sudah berteleportasi ke tempat petualangan mereka bermula.

Jam sudah mengarah ke angka lima tepat. Pertarungan satu malam selesai seperti harapan mereka.

***

Di kutub, segel itu sebenarnya sudah pecah. Hanya saja makhluk yang menghuninya masih tertidur. Ketika sinar matahari mengenai kulitnya, raungan langsung terdengar.

Dua sayap terbuka dengan gagah. Makhluk dengan warna putih itu meraung untuk yang kedua kalinya. Setelah tertidur puluhan ribu tahun, akhirnya dia bisa terbangun.

Manusia, aku datang untuk menghancurkanmu

Pertempuran dan petualangan lain telah menunggu Kris dan teman-temannya.

 

(Tunggu sambungannya di judul Ending)