Legenda Biru : Menit yang Menegangkan (Vol 16)

Begitu teknik ilusi itu diaktifkan, kami terasa seperti di sebuah hamparan yang luas. Langit yang ada diatas, dipenuhi bintang bersinar. Karena tidak ada cahaya apapun disini, benda langit itu bisa dilihat sangat jelas.

Sebuah suara mendadak muncul di kepala kami, “Jika kalian tidak berhasil keluar dari sini dalam waktu dua puluh menit, kalian akan mati.

“Tentu. Kami akan bersenang-senang disini memandangi bintang yang ribuan jumlahnya.” balas Hamzah

“Hamzah?” tanya Kris

Yang berbahaya dari teknik ini adalah membuat para targetnya lupa ingatan mereka berada dimana sebelumnya. Sehingga target mengira ini ialah tempat yang sama.

Kris mengeluh, kepalanya mulai terasa kurang enak. Tapi dia tidak mau kehilangan ingatan seperti teman-temannya. Karena dialah ketuanya.

Lima menit sudah terlewati

Sementara itu, tiga teman Kris malah tidur-tiduran memandangi langit. Sang ketuanya sendiri masih berusaha melawan pengaruh hilang ingatan.

Sepuluh menit terlewati, tanpa hasil

Kris membatin, “Tinggal tersisa sepuluh menit! Tuhan, apa yang harus kulakukan.

Dua belas menit sudah terlewati, Kris dan teman-temannya masih sibuk sendiri. Yang semakin menyebalkan, John dan Hamzah malah ketiduran. Sementara Ali, menatap langit dengan tatapan kosong.

Tiga belas menit. Ya ampun, dulu saja para ketua itu berhasil melewatinya dalam waktu sebelas menit saja. Ternyata kalian kurang berbakat.

Kris kemudian berseru, “Telepati menyebalkan! Lalu bagaimana caranya kami keluar dari sini!”

Gampang. Kalian saling menyadarkan diri agar ingatannya kembali. Kemudian mengucapkan mantra yang aku ucapkan ketika mengaktifkan teknik ini.” jelas suara itu

Si ketua kelompok mengeluh lagi. Ternyata ketika sudah sadar, mereka masih harus mengucapkan mantra itu. Tiba-tiba saja, Ali menyentuh bahunya. Mendadak sebuah ruang dengan langit biru cerah dan tanah berawan terhampar.

Disana, Hamzah dan John sudah terbangun dari tidurnya. Melihat sekeliling seakan mengatakan, kemana perginya para bintang indah itu?

“Hamzah! John! Sadarlah, itu cuman ilusi!” seru Kris

“Apa maksudmu Kris? Langit seindah itu ilusi? Justru tempat inilah yang ilusi! Keluarkan kami!” balas John

Ali lagi-lagi menyentuh bahu Kris, menyuruh diam. “Kita tidak akan bisa membujuk mereka dengan cara itu. Teknik harus dibalas teknik.”

Kening si ketua berkerut, temannya ini tidak hilang ingatan? Yang dipandang hanya nyengir kemudian mengucapkan mantranya.

Hamparan langit gelap yang luas. Diantara rumput dan pepohonan. Di sebuah tempat bernama Lembah Kijang. Di jam kedua, menit ketiga puluh. Otak yang menerima informasi, terimalah!

“Lingkaran ingatan!”

***

Sebuah sinar mengelilingi ruangan itu. Satu menit kemudian, Hamzah dan John sudah terduduk kebingungan. Mereka sudah tersadar.

Ali lalu mengajak ke tempat tadi. Menyuruh kami memakai alat yang dibawanya, supaya tidak hilang ingatan lagi. Hamparan langit berbintang itu kini seperti api yang membara.

Tujuh belas menit terlewati

Anak yang selalu membawa kotak hitam kemana-mana, mengeluarkan alat lain. Sebuah perekam. Dia memutarnya tepat ketika Ghadi mengucapkan mantra pemulai.

Dia menyuruh kami mengucapkannya bersama-sama. Dalam hitungan ketiga, mantra itu terucap untuk kedua kalinya.

Ribuan bintang, bersinar di angkasa. Memperindah langit yang terhampar, menambah cahaya diantara gelapnya malam. Bintang Sirius, bersinar dengan terang.

“Tertutuplah! Pembukaan kunci!”

Lima puluh detik kemudian, kami sudah terhempas ke rerumputan Lembah Kijang. Disana, terlihat Ghadi sedang duduk santai. Melihat empat targetnya keluar, dia langsung waspada.

“Selamat, kalian kelompok kedua yang berhasil keluar dari teknik ilusi milikku. Berarti ini tinggal pertarungan fisik bukan?”

Lima orang melesat bersama, serangan kembali beterbangan. Tersisa dua jam lagi manusia non pengguna elemental keluar dari rumahnya. Ali kini menggunakan senjata tombak, dia sedang tidak bersemangat memakai serangan teknologi.

Jejak teleportasi terus bertebaran dimana-mana. Anak panah juga menyerang dengan sengit. Tombak magma, menambah panasnya pertarungan.

“Cahaya aurora : Kesunyian diantara awan!”

“Tarian naga magma”

“Naga suhu dingin”

Ghadi terkena semua serangan itu. Dia menggeram lalu balas mengirim jaring petir. Kami berempat berhasil menghindarinya.

Sang singa tidak mau memperpanjang pertarungan, di tangan kanannya tercipta sebuah lingkaran dengan simbol waktu. Dalam sekejap, orang itu sudah menggenggamnya seperti sebuah benda.

Sebuah sinar mengelilingi tubuhnya. Tiga detik kemudian, tubuhnya dipenuhi baju pelindung dan dibagian punggungnya ada sebuah lingkaran jam.

“Ini kusebut lingkaran waktu kematian. Jika jarum panjangnya sudah menyentuh angka tiga, meteor akan menghujanimu.” jelasnya

“Apa? Meteor?” Hamzah terkejut mendengarnya

“Berarti kita hanya perlu menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit.” balas Kris

Semua serangan kali ini ditingkatkan, lebih cepat dan lebih kuat. Parahnya, baju pelindung itu terlalu kuat. Tersisa enam menit.

Si ketua kelompok berpikir keras mencari cara. Hingga akhirnya ide itu muncul. Formasi yang mengalahkan si elemental pertama.

Teman-temannya agak kurang yakin mereka bisa melakukannya. Apalagi bayarannya itu. Tapi Kris meyakinkan mereka agar mencobanya terlebih dahulu.

Dua puluh detik kemudian, sebuah susunan persegi terbentuk. Mereka saling mengalirkan kekuatan melalui susunan persegi itu.

Ghadi langsung tahu apa yang mau mereka lakukan. Dia akhirnya juga bersiap untuk serangan terakhir.

Sebuah serangan penutup pertempuran satu malam.

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 17)