Legenda Biru : Babak Ketiga (Vol 14)

“Tebasan aurora!”

“Magma persegi!”

“Suhu panas maksimum!”

Ghadi lagi-lagi memilih menghindar. Dia kemudian memberikan serangan balik berupa petir biru. Hamzah mengendalikannya lagi, tapi kali ini anak itu melemparkannya ke tanah.

Anak berambut keriting itu muncul dari belakang lawannya. Ghadi langsung menangkisnya. Tapi ternyata itu serangan tipuan. John sudah melesat cepat bersiap menusuk.

“Naga aurora!”

Mata kiri Ghadi mendadak bersinar, “Perlambatan waktu”

John langsung bergerak lambat seperti siput. Lawannya menyeringai, dia langsung melempar Hamzah ke anak yang terkena perlambatan itu.

Sinar di mata kirinya menghilang, waktu langsung berjalan seperti biasa. Sementara itu, John dan Hamzah sudah terhempas ke tanah. Sebuah pembatas lingkaran seketika mengelilingi si elemental pertama.

“Suhu panas empat ribu derajat”

“Bintang magma”

Dalam sekejap, tubuh itu sudah tertutup magma. Sedangkan Kris dan Ali menatapnya dengan tegang.

Mendadak, Ghadi Al-Chair sudah muncul di belakang dua anak itu. Bersiap mengirim pukulan petir biru. Ali yang sudah bersiap dengan segala kemungkinan, langsung mengaktifkan perisai biru perak.

Perisainya tidak hancur, tetapi mereka tetap terdorong empat meter. Dan disana sebuah portal teleportasi terbentuk. Seketika, si elemental pertama muncul tepat di tengah-tengah mereka. Kemudian langsung melemparkan dua anak itu.

“Percepatan waktu : Naga batu!”

Ghadi meraung marah. Meski serangan mendadak itu tidak menyakitkan tetapi memalukan baginya karena bisa lengah.

Disana Karim dan Milo sudah berdiri dengan napas yang masih terengah-engah. Mereka berlarian menuju tempat asal pertarungan karena sebelumnya terlempar sampai ke dinding pembatas.

“Jadi kalian sudah kembali? Lama sekali, tapi itu wajar sih bagi komandan terendah.” ucap Ghadi dengan nada merendahkan

“Kami akan mengalahkanmu sekarang” balas Karim

“Oiya? Dengan apa? Kalau menurutku, para bocah inilah yang lebih pantas mengalahkanku. Elemental kalian masih tingkat ketiga bahkan kedua.”

Karim dan Milo sudah menghilang berteleportasi. Ghadi juga menyusul menghilang. Gerakan pertarungan mereka sangat cepat. John memanfaatkan kesempatan ini untuk menyembuhkan teman-temannya.

Dua puluh lima menit kemudian, Milo sudah tersungkur ke tanah. Lima menit setelahnya, Karim menyusul jatuh.

“Sudah kukatakan, tidak ada yang bisa mengalahkanku!!”

***

Kris melesatkan anak panahnya lagi. Ghadi menatapnya dengan tatapan lesu, dia menangkisnya dengan mudah.

John menyusul menebas menggunakan cahaya hijaunya lagi. Sang elemental pertama merundukkan badannya kemudian menendang anak itu.

Ali menembak sinar laser biru disusul jurus magma. Lawannya membuka sebuah ruang hampa, serangan itu langsung menghilang seketika.

Hamzah berteleportasi tepat di depan lawannya, tapi tendangannya berhasil ditangkap. Dan langsung dilemparkan cukup jauh.

“Membosankan! Serangan kalian selalu sama saja. Bahkan musuh dengan tingkat rendahan bisa menghindarinya dengan mudah bila polanya selalu sama. Aku jadi merindukan pertarungan lautan api itu. Serangan mereka tidak terduga semuanya.”

“Kupikir setelah bertemu dengan para generasi baru dari empat klan besar itu, aku bisa menghadirkan memori lama! Tapi lihatlah. Semakin lama pertarungan ini, pola serangannya terbaca.”

“Anak bernama Kris, dia masih tidak fokus dengan anak panahnya. Dia terlalu memperhatikan sekitar hingga tembakannya menjadi kurang meyakinkan. John, setiap tebasannya masih ragu-ragu. Padahal ini pertarungan tapi dia masih berusaha agar pedangnya tidak mengenai lawan.”

“Hamzah, pukulannya masih kekurangan tenaga. Masalahnya sama dengan Kris, jangan-jangan mereka itu teman dekat? Sedangkan Ali, magmanya masih kurang panas. Dia masih takut dengan kekuatannya sendiri. Kalau begini, kalian tidak akan bisa mengalahkanku tahu?” jelas Ghadi panjang lebar

Empat anak itu saling tatap. Kenapa orang itu malah memberi tahu kekurangan mereka? Dan dia tahu kalau mereka dari empat klan besar di masa lalu?

Ghadi mendengus. Orang itu melayang di udara, membuat tornado bercampur petir dari tangannya. Bersiap menghabisi tempat itu.

“Musnahlah kalian semua. Setelah ini aku akan mengucapkan permintaan terakhirku pada buku coklat itu. Mungkin aku harus bersabar sampai ada yang bisa menghabisiku lagi.”

Tornado petir itu mulai terbang kearah kami. Kris kemudian menembakkan anak panahnya. Menantang petir yang tajam.

Satu menit kemudian, asap yang menutupi sudah menghilang. Ghadi menyeringai melihat kubah perisai perak yang kosong.

“Inilah pertarungan yang kuharapkan”

Ghadi lalu menoleh ke belakang, menahan anak panah. Angin langsung berdesir pelan. Bersamaan, Hamzah muncul dari atas. Melapisi pukulannya dengan angin.

Debu beterbangan menutupi sesuatu. Seketika, John melesat dari sana membuat angin berhembus kencang. Pedangnya berlapis cahaya aurora biru.

Ghadi merundukkan badannya lalu mengarahkan pukulan ke perut John. Sebelum itu terjadi, Ali muncul membawa perisai biru perak.

Anak berusia empat belas tahun itu langsung berteleportasi. Bersamaan, Ali mengeluarkan semburan magma dari tanah. Ghadi terkejut, mukanya langsung terkena cairan itu.

Orang itu meraung tidak terima. Dia langsung membalasnya dengan tendangan petir biru. Hamzah berteleportasi mengendalikannya lalu mengarahkannya ke Ali.

Anak itu balas mengendalikannya memakai alat kemudian merubahnya menjadi magma. Sepuluh detik kemudian, magma berwarna merah sudah terkirim.

Ghadi menggunakan ruang hampa untuk menangkisnya. Tapi ternyata magmanya terlalu panas sehingga kebocoran terjadi. Dua detik kemudian, elemen itu menyembur dari udara. Sang elemental tertawa melihatnya.

John mendadak muncul tepat di depan lawannya, benda tajam miliknya langsung menebas dengan cepat. Karena tidak sempat bereaksi, darah langsung keluar dari lengannya.

“Hebat! Kalian berhasil membuatku berdarah seperti ini. Itu artinya aku juga harus serius bukan?”

Seketika dia menghilang lalu muncul dari belakang Kris. Anak itu melompat menghindari pukulan lawannya. Dan dibalas dengan tembakan gletser. Mata kanan Ghadi bisa terkena serangan itu jika tidak berteleportasi.

Menyadari kalau empat anak itu sudah memiliki reaksi yang bagus, Ghadi langsung berteleportasi kemana-mana. Dia sengaja meninggalkan jejak portal untuk melancarkan serangan berikutnya.

“Jaring petir”

Petir seketika menyambar melalui jejak portal itu. Kris dan teman-temannya berusaha menghindarinya. Hamzah tidak bisa mengendalikannya karena petir-petir itu sudah dikunci lewat portal.

Dalam tiga menit, hamparan yang indah itu dipenuhi lubang sedalam sepuluh meter. Kris dan teman-temannya terengah-engah, akhirnya petir itu selesai juga.

Tapi mereka tidak mau membuang waktu. Sebelum pagi tiba, pertarungan ini harus sudah selesai. Mereka tidak mau diketahui dunia dengan panggilan sang pemenang. Cukuplah sebagai sang ilmuwan.

John dan Hamzah melesat bersamaan. Begitupun Kris dan Ali, mereka berempat bersiap melakukan jurus kombinasi.

“Tarian aurora : pukulan naga!”

“Magma biru!”

Ghadi berhasil menghindari serangan pertama. Tapi tidak untuk serangan kedua. Jurus itu mengenai tubuhnya tepat dibagian kiri. Luka lama yang seharusnya sudah sembuh, kembali terbuka.

Orang itu berteriak kesakitan, darah mengucur deras dari sana. Dia menggeram, beraninya empat anak ini membuka luka lamanya.

“Hebat Kris, Ali! Kalian tepat mengenai tubuh bagian kirinya.” seru Hamzah

Mereka berdua mengangguk-angguk, mengakui kalau itu memang prestasi hebat. John juga tersenyum senang melihatnya. Tapi empat anak itu kembali waspada, Ghadi sudah melesat dengan mata kiri yang bersinar.

“Ruang biru : Naga petir”

Suara ledakan tersebar cepat, untung saja Ali langsung mengaktifkan perisai kubahnya. Ghadi kemudian muncul tepat ketika anak itu mematikan perisainya.

“Percepatan waktu : Petir biru”

Mereka berempat seketika terhempas sepuluh meter. Gerakan Ghadi menjadi sangat cepat, bahkan empat anak itu tidak sempat membuat perisai.

Kris dan teman-temannya tidak mau kalah. Anak panah kembali melesat, pedang melanjutkan tebasannya, pukulan terkirim dan elemental kembali membakar.

Dan jawabannya langsung diketahui, semua serangan itu tidak mengenai apapun. Hanya masuk kedalam ruang hampa yang lebih besar. Enam detik kemudian, dia melayang dilanjutkan mengirim petir.

Suara berdentum sahut menyahut. Kris dan teman-temannya berhasil menghindarinya dengan susah payah.

Ghadi berteleportasi kearah Kris dan Ali. Mereka berdua tidak mau menjadi sasaran pukulan, dan langsung balas menyerang memakai jurus kombinasi.

“Magma basaltik : Suhu maksimum!”

Sang singa tidak menghentikan serangannya. Dia malah menunjukkan skill lain yang dimilikinya. Dari tangan kanannya keluar perisai berwarna hijau dengan garis perak.

Serangan elementalnya juga dipusatkan pada tangan satu-satunya itu. Sehingga, petir dan perisai muncul secara bersamaan. Seketika mereka berdua terlempar lima belas meter.

John dan Hamzah tidak membiarkan kami diserang begitu saja. Dua anak itu melesat bersamaan. Tapi itu kurang berguna, Ghadi sudah memperlambat waktu lalu menendang mereka bersamaan.

Orang itu kemudian menatap sekitar, memastikan mangsanya sudah tidak berdaya. Persis seperti arti namanya yang berarti singa bercahaya.

Dua detik kemudian, dia berteriak mengucapkan kalimat seperti sebelumnya, “Sudah kukatakan. KALIAN BUKAN LAWANKU!!”

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 15)