Legenda Biru : Akhirnya Lengkap (Vol 12)

Suara berdentum terdengar lagi. Milo beradu tinju elemental dengan komandan kesatu. “Sekarang aku sudah lebih kuat dari dulu, Milo”

“Kalau begitu, mari kita buktikan” balas Milo

Lima portal tiba-tiba muncul. Dari dalam sana, muncul para kloningan Milo. Enam melawan satu. Komandan kesatu bisa kalah dengan telak.

Tapi orang itu tidak mau kalah. Dia memunculkan petir multiple striker dari tangannya. Milo dan kloningannya menghindar dengan mudah.

Komandan kesembilan membalasnya dengan serangan batu dari portal-portal yang saling bermunculan. Dilanjutkan dengan angin tornado.

“Kalian berempat berhati-hatilah, jangan sampai terkena batu-batu itu” seru Karim

“Siap kak!” balas Kris

Si ketua kali ini menggunakan gravitasinya. Tapi sebelum Milo terkunci, orang itu sudah masuk kedalam portal. Dan muncul dari belakang.

Komandan kesatu berhasil menghindari serangan mendadak itu. Kemudian membalasnya dengan pukulan petir. Milo juga mengarahkan pukulan batunya kearah tangan si lawan.

“Kekosongan”

Teknik itu dilepaskan lagi dan komandan kesatu langsung sesak napas. Milo melanjutkannya dengan melakukan pukulan batu. Sang ketua langsung terhempas ke dinding sampai terbatuk-batuk.

Orang itu sudah berdiri lagi lalu meregangkan badannya. “Milo, sudah lama sekali kita tidak bertarung. Mungkin waktunya menggunakan kekuatan penuh.” Dia mengeluarkan sebuah alat dan menarik sesuatu dari sana. Sebuah keris muncul.

“Keris diponegoro!” seru Karim

“Jawab, dari mana kamu mendapatkan benda itu?” tanya Milo

Komandan kesatu menyeringai, “Mengapa pertanyaanmu seperti itu? Aku mengambilnya dari museum!”

Si ketua sudah melesat, keris itu sudah dilapisi petir silver. Milo juga balas bergerak bersama lima kloningannya.

“Keris petir : Gravitasi yang menekan”

“Ruang biru!”

Milo mendadak hilang. Tapi komandan kesatu sudah tahu kemana dia mau muncul, dari belakang! Tepat seperti dugaannya, pukulan batu saling berhantaman dengan keris itu.

“Hujan batu”

“Keris petir : Garis silver!”

Batu-batu itu langsung hancur seketika. Milo tiba-tiba muncul dari bawah komandan kesatu. “Angin berbatu!”

Si ketua langsung terhempas ke atap ruangan dan jatuh berdebam ke tanah. Tapi dia masih belum menyerah. Kali ini orang itu memusatkan petirnya di senjata miliknya, kemudian menyabetkannya. Serangan jarak jauh.

Tapi petir itu tidak mengenai apapun, karena sudah masuk kedalam ruang hampa milik Milo. Nyatanya, serangan jarak jauh cuman pengalih perhatian saja. Karena puncaknya adalah penekanan menggunakan gravitasi.

Milo berhasil dijebak. “Kekuatan ruangmu tidak akan bisa menembus batas gravitasi milikku. Lihatlah, aku berhasil memenangkan satu pertarungan.” ujar komandan kesatu sambil mengangkat kepalanya.

Secara tiba-tiba, waktu menjadi cepat. Karim sudah muncul dibawah komandan kesatu, “Pukulan magma.” Komandan kesatu langsung terhempas menembus dinding.

Karim menghampiri Milo kemudian mereka berdiri bersebelahan. “Kita dikenal bukan karena pertarungan sendiri-sendiri. Dua Naga Kembar, itulah julukan kami.”

Kris dan teman-temannya menatap antusias pertarungan itu. Mereka memperhatikan melalui perisai kubah milik Ali.

***

Komandan kesembilan dan kesepuluh sudah melesat. Sang ketua para komandan memutuskan untuk melancarkan serangan petir jarak jauh.

“Percepatan waktu”

“Ruang hampa!”

Dalam sekejap, petir itu sudah menghilang. Bersamaan, Karim dan Milo juga muncul di belakang si ketua. Keris petir itu langsung menebas tidak tentu arah.

“Petir multiple striker!”

“Teleportasi ruang”

Dua naga kembar itu sudah melayang di atap ruangan. Kemudian mereka membentuk sebuah tinju perpaduan. Magma dengan batu, menjadi bara api.

Komandan kesatu mencoba menirukan gerakan Hamzah. Dia melompat berputar kemudian mengarahkan petirnya ke lawan. Dalam sekejap, elemen silver itu sudah menjadi lingkaran.

Karim dan Milo mengarahkan tangan satunya ke lingkaran. “Percepatan waktu : Teleportasi!”

Sedetik, mereka sudah tiba di belakang komandan kesatu. Pukulan bara api itu mengenai lawannya dengan telak. Sang ketua langsung berteriak marah.

Dia memegang bahu kirinya kemudian berseru, “Lepaslah!”

Karim dan Milo terkejut, segel berbahaya itu akan terlepas. Segel yang hanya dimiliki oleh ketua serta wakil para komandan elit.

Jika berhasil menjinakkannya, maka segel itu tidak terlalu berbahaya ketika dilepas. Karena menuruti perintah tuannya. Tapi kalau tidak berhasil, nyawa si pengguna akan hilang.

Syarat untuk menjinakkannya adalah memperlihatkan sebuah kekuatan yang ingin dilihat oleh si makhluk. Menurut informasi yang dibaca Karim, tahun ini makhluk itu mau melihat kekuatan ruang dan daun.

Benar saja, si makhluk sedang meraung kencang. Seorang raksasa keluar dari sana. Sementara itu, komandan kesatu duduk mematung tidak bergerak.

Raksasa itu mengeluarkan serangan angin. Meski sudah menggunakan ruang hampa, tapi tetap ada sebagian yang lolos. Suara meledak langsung terdengar.

Sementara itu didalam perisai kubah.

“Kita harus membantu kakak-kakak itu!” seru Kris

“Tapi di luar berbahaya!” balas John

Ali dan Hamzah mengangguk sepakat. Kris mendengus, bila memakai pilihan suara jelas dia kalah. Tapi anak itu tidak kurang akal. Begitu teman-temannya menatap lagi pertarungan itu, dia mengambil sebuah alat milik Ali.

Begitu diaktifkan, dia sudah berada di luar perisai kubah bagian belakang. Kemudian Kris menaruh lagi alat itu secara perlahan.

“Garis gletser!”

Anak panah langsung terbang dengan cepat kearah raksasa. Hamzah dan teman-temannya terkejut. Sang siluman naga mematahkan serangan itu dengan mudah.

Karena Kris sudah berada diluar, Ali memutuskan mematikan perlindungan kubah. Mereka tetap harus bertempur bersama. Dua detik setelah perisai dimatikan, Hamzah sudah berada di atas kepala raksasa.

“Pukulan naga!”

Kekuatan serangannya sangat tinggi, si raksasa langsung jatuh berdebam ke tanah. Sebelum monster tinggi itu bangkit kembali, John bersiap menyabetkan pedangnya.

Karim tiba-tiba muncul, “Percepatan waktu!”

Pedang berlapis cahaya itu langsung menebas dengan cepat. Saking cepatnya, elemen tingkat ketiga telah terbentuk. Cahaya biru.

***

Dua senjata beradu dengan keras. Pedang berlapis cahaya biru itu hanya berhasil menggores sedikit lawannya. Sedangkan tombak sang raksasa sudah menghancurkan bangunan kunci perak.

Karim dan Milo juga kembali menyerang setelah terhempas oleh angin tadi. Raksasa itu cukup kuat, bahkan serangan si naga kembar tidak berpengaruh banyak.

Kris dan Ali melompat kemudian menyerang bersamaan. Sang raksasa hanya tergeser lima senti. Kali ini John yang menyerang, dia muncul didekat tangan kanan monster besar itu lalu menebasnya.

Sebagai balasannya, anak itu menerima pukulan yang sangat keras.

“Hamzah, apa kamu tidak bisa melakukan yang seperti tadi?” seru Milo

“Sudah tidak bisa kak”

“Coba pikirkan baik-baik. Bagaimana kamu menyerangnya tadi. Kita belum bisa memberikan efek yang serius, sementara kamu berhasil menjatuhkannya ke tanah.” ujar Karim

Hamzah merenung sejenak. Dan akhirnya anak itu berhasil mengingatnya.

Tiga detik kemudian, Hamzah kembali muncul di atas kepala sang monster. Kris, Ali dan John seperti menyadari tujuan temannya. Mereka bertiga mulai menggabungkan elemental masing-masing.

Begitu Hamzah berseru mengucapkan jurusnya, sedetik kemudian Kris dan dua temannya muncul di atas raksasa yang sedang terjatuh.

“Matahari merah!”

Sang raksasa jatuh dengan keras, monster itu berhasil dikalahkan. Bersamaan juga, sang komandan kesatu terkalahkan.

Aturan lain segel itu ialah, bila sang monster berhasil memenangkan pertarungan, maka dia akan kembali ke tempatnya. Nyawa sang pengguna bisa terselamatkan. Tapi jika si monster kalah, nyawanya menghilang.

Itulah alasan Karim dan Milo sengaja melakukan pemberontakan agar mereka terbebas dari si segel berbahaya.

Tiba-tiba, sebuah kunci terjatuh begitu si raksasa menghilang sempurna. Ali mengambilnya dan dia berseru kaget.

Ini kunci perak kelima!

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 13)