Legenda Biru : Pertarungan Dahsyat (Vol 11)

Komandan kesatu sudah melesat kearah empat anak itu. Kunci-kunci perak itu harus berada dalam genggaman rajanya. Bocah-bocah ini tidak akan bisa ‘memegang’ Legenda Biru untuk selama-lamanya.

Kekuatannya berkaitan dengan petir dan gravitasi. Komandan kedua dan ketujuh juga ikut melesat.  Kris dan teman-temannya terkejut melihatnya. Mereka masih kelelahan karena pertarungan tadi.

John dan Hamzah akhirnya berdiri, “Kita semua tetap harus setara. Biarkan kami yang bertempur untuk meningkatkan kekuatan kami.”

Kris dan Ali tersenyum kemudian berdiri juga, “Bukan masalah perbedaan karena elemen. Kekuatan itu tidak penting, tapi kerjasama dalam pertarunganlah yang penting.”

Empat anak itu akhirnya berdiri berbaris. Ali mengeluarkan perisai biru peraknya. Suara berdentum terdengar sangat keras. Benda itu langsung pecah seketika.

Hamzah kemudian menendang kearah musuhnya. Komandan kedua menangkisnya dengan mudah. Si ketujuh mengeluarkan jurus magnetnya. John yang awalnya tertarik, langsung kembali ke posisi semula. Ali menetralkan kekuatan itu.

Komandan kesatu melayang memakai kekuatan gravitasinya. Dilanjut dengan mengeluarkan petir merah dari tangannya. Kami berempat melompat menghindar.

Tangan Ali tiba-tiba berubah menjadi magma. Anak itu kemudian melesat kearah komandan kesatu. Si kedua yang menyadarinya mencoba membuat perisai, diantara para komandan, miliknya terkuat kedua.

Tapi magma itu terlalu panas, lima detik kemudian perisainya meleleh. Kris kemudian muncul dari atas dan menembakkan panah gletsernya. Komandan kedua sudah terbekukan.

John muncul dari bawah Ali, dia menyabetkan pedangnya yang dilapisi sebuah elemen. Elemen bawaan klan Ksatria Putih.

Komandan ketujuh mencoba menarik anak itu dengan magnet. Tapi Hamzah sudah menyerangnya terlebih dahulu. “Kesunyian diantara awan : Langit hitam”

Orang yang menjadi sasarannya terhempas ke dinding. Hamzah lalu melesat lagi kearah lawannya. Bersiap untuk melancarkan pukulan terakhir. Empat puluh lima detik kemudian, si komandan sudah pingsan di lantai.

***

Ini berarti tinggal komandan kesatu saja yang masih berdiri. Satu melawan empat, peluang menang Kris dan teman-temannya tiga puluh banding seratus.

Sang komandan akhirnya memutuskan menaikkan level kekuatannya. Dia terus mengeluarkan petir tanpa henti hingga sebuah sinar keluar. Petir merah akan mengalami perubahan.

Lima puluh detik berlalu, elemen itu berubah warna menjadi silver. Komandan kesatu kemudian melayang dan menciptakan sebuah awan dengan teknologi. Orang itu memasukkan petirnya ke awan buatan.

Kris dan teman-temannya bersiap dengan berbagai kemungkinan. Dua puluh detik, petir biru menyambar dahsyat.

“Rasakanlah kekuatan baruku! Jurus ini kunamai petir multiple striker. Petir yang menyambar hingga menyentuh tanah!” seru komandan kesatu

Mau dihindari juga tidak bisa. Awan buatan itu sudah menutupi seluruh bangunan kunci perak. Jadi benda-benda yang ada diluar ruangan ini juga terkena akibatnya. Ali akhirnya memutuskan mengeluarkan lagi magma yang berasal dari dalam perut bumi.

Sedangkan John, dia mencoba menyabetkan pedangnya kearah lawan. Tapi itu tidak berguna. Ini bukan lagi pertarungan dengan senjata, tapi lebih ke penggunaan elemental. Nasib Hamzah juga tidak berbeda jauh.

“Apa yang akan kita lakukan John? Dua teman kita sedang berusaha menghalau petir ini sekaligus menyerang si komandan.” bisik Hamzah

John menunjukkan ekspresi sedih, “Aku tidak tahu. Kalau saja elemenku meningkat, aku bisa ikut menyerang.”

“Memangnya apa elemenmu?”

“Cahaya putih. Kalau saja bisa ditingkatkan ke warna biru, aku bisa berteleportasi kearah lawan. Kemudian menyabetkan pedangku ini”

“Kalian para pengguna elemen benar-benar enak. Klanku tidak terlalu mahir dalam penggunaan elemen. Sebagai gantinya, bela diri mereka sangat kuat. Dan teknik tertingginya adalah teleportasi, peningkatan kecepatan serta pertahanan.”

Dua detik kemudian, Hamzah meraih tangan John untuk berdiri. Dia berseru, “Kita hanya membuang waktu bila duduk seperti ini. Sementara Kris dan Ali bersusah payah menahan petir. Apapun yang terjadi, aku tetap bertempur!”

Anak itu sudah melesat membantu teman-temannya. Entah apa yang dipikirkannya, dia menyambut petir itu menggunakan tangannya. Hamzah menahan petir itu selama tiga detik kemudian membelokkannya kearah komandan kesatu.

Komandan kesatu terkejut ada yang bisa membelokkan petirnya menggunakan tangan kosong. Ali, Kris dan John juga memperlihatkan reaksi sama.

Petir multiple striker menyambar untuk yang kesekian kali. Hamzah menerimanya lagi menggunakan kedua tangannya. Kali ini dia melompat berputar sembari membawa petir itu. Seakan-akan seperti dikendalikan.

“Kesunyian diantara awan : Petir yang membara!”

Komandan kesatu lagi-lagi terkejut. Meski itu masih petir miliknya, serangannya malah jadi lingkaran yang berputar-putar.

John akhirnya tidak mau berdiam diri lagi. Begitu si komandan kesatu hendak menangkis petir, anak itu tiba-tiba muncul dari sana menebaskan pedangnya.

“Pedang cahaya yang berkilau!”

Suara berdentum terdengar keras. Komandan kesatu terlempar sejauh sepuluh langkah dari tempat asalnya berdiri.

“Garis gletser!”

“Semburan magma!”

“Kesunyian diantara awan : Langit biru!”

“Naga cahaya!”

Empat anak itu menyerang bersamaan. Dengan serangan sehebat itu, seharusnya komandan kesatu sudah pingsan. Tapi dugaan mereka keliru.

Lawannya memang mendapat luka-luka, tapi dia masih bisa berdiri dengan tegak. Sebagai pemimpin sepuluh komandan elit, kekuatan fisiknya diatas manusia biasa.

“Anak-anak menyebalkan!” seru dia

Komandan kesatu kali ini menggunakan gravitasi. Dia menekan Kris dan teman-temannya hingga jatuh ke tanah.

“Kalian tidak akan bisa bergerak kemanapun selama aku masih berdiri diatas batu ini.” ujarnya menyeringai. Dia kemudian bersiap mengeluarkan serangan petir berawan itu.

Tiba-tiba sebuah portal terbuka, dua orang keluar dari sana. Suara berwibawa terdengar, “Kamu tidak diperbolehkan menyerang anak-anak dengan cara seperti ini. Setidaknya biarkan mereka bergerak.”

***

“Komandan kesembilan dan kesepuluh! Apa yang kalian lakukan disini! Ini perintah raja?” tanya komandan kesatu terkejut

“Iya, ini memang perintah raja. Kami disuruh menjemput kalian berdelapan. Karena bosan, kami memutuskan untuk melaksanakannya.” jawab komandan kesepuluh

Wajah Kris dan teman-temannya panik. Mereka belum selesai mengatasi satu orang, malah muncul dua orang lagi.

“Tapi lihatlah, ternyata kamu malah sedang bermain-main. Bukannya cuman disuruh menghadang?”

Wajah komandan kesatu pucat. Dia lupa kalau perintahnya cuman menghadang. Sejak kemunculan elemental tingkat keempat, semua perintah menjadi terlupakan.

Komandan kesepuluh tiba-tiba muncul didekat orang itu. Dia menendangnya jatuh dari batu, gravitasi yang menekan Kris dan teman-temannya langsung menghilang.

Empat anak itu memasang posisi menyerang. Didepan mereka berdiri tiga komandan, jadi mereka harus waspada. Komandan kesembilan menyentuh bahu Kris, “Kami berdua tidak akan menyerang kalian. Anggap saja sebagai sekutu.”

Kris mengernyitkan alis, sekutu?

Komandan kesepuluh menoleh ke Hamzah, “Kamu tentu sudah mendengar si ketujuh mengatakan kalau kami adalah orang dalam bayangan. Karena raja ingin komandan elit ada sepuluh orang, kami berdua hanya diturunkan menjadi posisi kesepuluh dan kesembilan. Komandan kesatu dan kedua awalnya ada di posisi itu, tapi karena kami diturunkan, mereka menjadi ketua. Jadi berdasarkan kekuatan, mereka itu terlemah.”

“Tutup mulutmu, kesepuluh!” seru komandan kesatu

Tapi orang itu tidak bisa melanjutkan perkataannya. Mulutnya sudah ditutup si kesembilan.

“Oiya, supaya tidak kepanjangan panggil kami berdua Karim dan Milo. Usia kami baru dua puluh lima.” jelasnya tersenyum

“Baik Kak Karim” jawab Ali

“Komandan kesembilan dan kesepuluh! Kalian benar-benar pengkhianat! Kita dilarang menyebutkan nama asli tanpa izin raja!”

Komandan kesatu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Milo. Kemudian dia mengeluarkan petir dari tangannya kearah komandan kesembilan. Tapi petir itu bukan apa-apa.

Sebagai mantan wakil ketua, fisiknya sangat kuat. Sebagai balasannya, ruangan itu tiba-tiba menjadi hampa. Sebagian kecil kekuatannya telah dilepaskan. Kris dan teman-temannya napasnya menjadi sesak. Karim lalu memberi mereka sebuah helm.

Begitu dipakai, kami bisa bernapas lagi. Karim menjelaskan kalau salah satu teknik Milo adalah kekosongan, tapi itu biasa dipakai sebagai pengalih perhatian saja. Karena fungsinya hanya bisa bertahan selama dua puluh detik.

Waktunya serangan balik.

 

Bersambung ke : Legenda Biru (Vol 12)