Kisah Andalusia di Masa Lalu : Kejayaan Andalusia (Vol 2)

Kisah Andalusia

Assalamualaikum. Sekarang kita kembali membahas kisah Andalusia : Kejayaan. Dan bagi yang belum baca vol 1, nya. Klik saja, Kisah Andalusia : Penaklukan Negeri. Seperti sebelumnya, yang kali ini juga masih bersambung, ya.

Setidaknya, ada dua orang yang berhasil membuat Andalusia menjadi pusat peradaban. Bahkan bisa setara dengan Baghdad. Dimana kala itu, kota tersebut juga menjadi pusat ilmu.

Siapa saja kedua orang tersebut? Yang berhasil memajukan Andalusia? Ya sudah, mari kita langsung saja! Semoga bermanfaat!

1. Abdurrahman Ad-Dakhil

Abdurrahman bin Muawiyah (biasa dipanggil Abdurrahman Ad-Dakhil) merupakan salah satu keluarga kerajaan Bani Umayyah. Saat itu, di kerajaan sedang terjadi keruntuhan.

Para pangeran, putra-putra pangeran dan siapapun yang dianggap layak menjadi khalifah, ditebas oleh pedang-pedang. Pedang siapa lagi kalau bukan milik Abbasiyah. Tapi ada beberapa orang yang tidak terjangkau. Salah satunya Abdurrahman bin Muawiyah.

Ya, dia melarikan diri bersama dengan anggota keluarganya yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka adalah dua orang saudara perempuannya, adik laki-lakinya dan putranya.

Namun, saudara laki-lakinya itu malah mati di tangan Abbasiyah. Saat mereka lari dan berhasil menyeberangi sungai, saudara laki-lakinya terbujuk oleh pengejarnya.

Hingga akhirnya, ia sampai di pantai Afrika yang berhadapan dengan Andalusia. Sebelum memasuki kota tersebut, Abdurrahman mengutus pembantunya untuk mengamati wilayah.

Dan pembantunya yang bernama Badr, mengutus seseorang untuk menyampaikan kondisi wilayah. “Sesungguhnya situasi dan kondisi sudah siap menyambut Anda disana”.

Waktu sudah berlalu

Salah seorang khalifah Abbasiyah mencoba membunuh Ad-Dakhil dengan mengirim sebuah pasukan. Namun Abdurrahman berhasil mengatasi pemberontakan tersebut.

Dan akhirnya, khalifah Abbasiyah tersebut memberi sebuah gelar pada Ad-Dakhil. Yaitu ‘Rajawali Quraisy’.

Ad-Dakhil menjadikan Kordoba sebagai ibu kotanya. Dan sepanjang pemerintahannya, kota tersebut dihiasi karya-karya yang diawasinya sendiri. Ia sangat suka terhadap bunga.

Bahkan menugaskan ahli botani dari timur untuk mendapatkan buah-buahan dan tanaman dari daerah itu untuk ditumbuhkan secara alami di Andalusia. Dan ia memperkenalkan buah persik dan sejenis buah delima.

Singkatnya, Andalusia sudah berhasil menjelma menjadi kota yang indah di masa Ad-Dakhil. Beberapa olahan kota tersebut juga terkenal di mana-mana. Tidak ada orang miskin di antara mereka, karena rakyatnya saling merawat orang-orang miskin dan anak yatim dengan kasih sayang.

Penerusnya, yaitu Al-Hisyam juga berhasil mempertahankan kemajuan ilmu di Andalusia. Ia adalah putra Ad-Dakhil. Selanjutnya, kekhalifahan dipegang lagi oleh putra Al-Hisyam, yaitu Al-Hakam.

2. Abdurrahman An-Nashir

Sebelum An-Nashir berkuasa, Kristen mulai melakukan penyerangan. Bahkan, dalam hitungan bulan atau tahun, Islam hampir lenyap disana. Namun Allah masih belum mentakdirkan Islam lenyap, Allah mengkaruniakan seorang pemimpin baru.

Dan, siapa lagi orangnya? (Baca sub judulnya)

Abdurrahman An-Nashir kembali membangkitkan Andalusia. Nah, beda orang tentu beda perilaku. Berbeda dengan Ad-Dakhil, An-Nashir membangun sebuah istana yang sangat besar.

Uang untuk istana itu awalnya untuk membebaskan orang muslim yang ditawan bangsa Frank. Tapi ternyata, tidak ada seorangpun disana. Akhirnya, istanalah yang dibangun. Dan istana tersebut mempunyai nama Az-Zahra.

Beberapa bahan pembangunan diambil dari berbagai kota. Namun, meski ia mempunyai istana yang megah, An-Nashir dan rakyatnya masih sehat. Mereka masih saling terbuka dan saling memberi nasihat.

An-Nashir juga sangat suka pada ilmu pengetahuan dan disegani orang-orang terpelajar. Di Az-Zahra, ia suka berdiskusi dengan berbagai penyair terkenal dan orang-orang terpelajar.

Hingga akhirnya ketika ia wafat, pemerintahan segera dipegang oleh putranya. Al-Hakam. Semua orang pun langsung memberikan kesetiaan kepadanya. Pasukan Kristen lalu mencoba menyerang lagi. Tapi berhasil dipatahkan.

Putranya itu juga berhasil menjaga kedamaian dan ketenangan Andalusia. Al-Hakam sangat suka dengan buku. Bahkan buku darimanapun harus didatangkan ke Kordoba. Hartanya digunakan untuk membeli benda tersebut.

Dan setelah ia wafat, kejatuhan Andalusia sudah menunggu. Dimana rantai kejayaan mulai turun perlahan, namun pasti.

-Bersambung-

Bagaimana? Menarik bukan kisah Andalusia yang kali ini? Itu membuktikan kalau Islam pernah berkuasa dengan gemilang disana.

Karena sudah bersambung, kita sudahi dulu. Tunggu vol 3-nya saja, ya! Wassalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *