Kisah Andalusia Sebelum Muslim Tiba : Penaklukan Negeri

Kisah Andalusia

Kali ini kita akan membahas kisah Andalusia. Mulai dari sebelum muslim tiba, sampai penaklukan negerinya. Sekarang nama ini berubah menjadi Spanyol. Penasaran, bagaimanakah kisah Andalusia di masa lalu?

Karena kisahnya panjang, akan dibagi menjadi 3 artikel. Mulai dari penaklukan Andalusia, masa kejayaannya dan masa keruntuhannya.

Tidak berlama-lama lagi, kita langsung saja ya! Selamat membaca!

A. Kisah Mantra

Sebelum memulai kisah penaklukan Andalusia, akan lebih baik tahu dulu masa sebelumnya. Yuk, lanjut saja!

Zaman dulu, raja-raja Yunani yang berkuasa di Andalusia sangat takut dengan serbuan bangsa Barbar. Mereka pun merencanakan membuat mantra yang berbeda-beda.

Akhirnya satu pun diputuskan. Raja-raja ini menempatkan mantra di dalam sebuah guci yang disimpan di istana Toledo. Supaya keamanannya lebih terjaga, mereka memutuskan untuk memasang gembok. Siapapun yang berkuasa, diharuskan memasangnya.

Karena itulah, 27 gembok pun terpasang disana. Namun, raja yang baru diangkat ini melanggar semuanya. Ia bernama Roderick.

Selain tidak memasang gembok, Roderick bahkan mencoba masuk ke dalam ruangan guci. Disanalah ia menemukan sebuah lukisan bergambar penunggang kuda yang terlihat seperti orang Arab. Selain itu, penunggang kudanya memakai kulit binatang, sebuah turban dan berambut kasar.

Tombak dan pedang pun menggantung di penunggang kuda tersebut. Roderick juga menemukan sebuah tulisan, “Kapanpun ruangan perlindungan ini dilanggar, maka orang-orang yang tergambar di guci akan merebut Andalusia dan menurunkan singgasana raja-rajanya.”

Ia pun menyesal karena telah melakukannya. Namun, benar atau tidaknya kisah mantra ini, hanya Allah yang tahu.

B. Penaklukan Negeri Maghribi

Untuk menaklukkan seluruh wilayah Maghribi (kini jadi Maroko, Tunisia & Aljazair) membutuhkan waktu sekitar 70 tahun. Karena itulah Islam disana belum menancap kuat di hati para penduduk Maghribi.

Dan ada dua orang yang cukup berperan dalam menancapkan Islam disana. Simak terus ya!

1. Uqbah bin Nafi’ al-Fihri

Mungkin banyak yang kurang mengenal nama satu ini. Ia adalah seorang tabiin tekemuka dan banyak meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Umar.

Uqbah adalah salah satu panglima perang yang berjasa besar menaklukan Maghribi. Saking bersemangatnya, ia menunggangi kuda sampai lemas.

Ia pun hendak kembali ke Ifriqiya (kini Libya, Tunisia dan Aljazair). Uqbah membagi pasukannya dan bergerak secara berkelompok dan bergantian. Namun, datang serangan dari tempat yang seharusnya sudah diadakan perjanjian.

Mereka adalah pasukan Barbar dan Bizantium. Uqbah dan pasukannya pun tewas karena serangan itu. Sifat bangsa Barbar akhirnya selalu berubah-rubah. Kadang memberontak, dan kadang tunduk pada Islam.

Akhirnya Maghribi dipegang oleh seorang gubernur baru. Yang nanti juga berperan dalam penaklukan Andalusia. Ia juga seorang panglima andal. Siapa lagi orangnya kalau bukan, Musa bin Nushair.

2. Musa bin Nushair

Ayahnya yang bernama Nushair pernah menjadi tawanan. Saat itu, Khalid bin Walid sudah menakluki wilayah pesisir sungai Eufrat, Irak. Dan di dalam gereja Ayn Tamr itulah terdapat 40 anak.

Salah satunya adalah Nushair dan Sirin (ayah Muhammad bin Sirin). Nushair lalu dimerdekakan dan masuk kedalam pasukan Bani Umayyah. Karena semangat dan kesetiaan yang tinggi, ia diangkat menjadi panglima pasukan utama.

Sebenarnya Musa hanya memperkuat Islam di Maghribi dan wilayah taklukan Islam lainnya. Karena itulah, banyak ulama dan pendakwah dikirim kesana.

C. Andalusia yang Mulai Ditaklukkan

Kisah Andalusia

Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair. Itulah nama pahlawan Islam yang berhasil menaklukan Andalusia dan menyebarkan Islam disana.

Tapi, jauh sebelum Thariq ada pendaratan Islam yang benar-benar pertama kali di Andalusia. Tepatnya pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Rakyat Andalusia sendiri sudah kurang puas dengan pemimpin wilayah tersebut.

Hingga akhirnya, mereka menyambut tangan kaum Muslim. Bahkan salah satu gubernur wilayah. Yang bernama Ilyan, aktif membantu pasukan ini.

Pada akhirnya pertempuran besar akan terjadi. Dan kedua pasukan pun bertemu. Pasukan musuh siapa lagi pemimpinnya kalau bukan Roderick. Sebelum perang, musuh mengirim mata-mata untuk melihat aktifitas lawannya.

Thariq pun mengetahui hal itu. Ia lalu menyuruh pasukannya agar memotong tubuh orang yang sudah mati dan menyajikannya seperti hidangan makanan. Mata-mata itu pun merasa yakin kalau tentara lawan diberi makan daging manusia.

Pertunjukan memasak pun sudah selesai. Panglima perang lalu memerintahkan agar mayatnya dikubur secara layak. Dan menyuruh memasak daging sapi dan kambing untuk dimakan secara sungguhan. Mata-mata Roderick pun diajak makan bareng.

Esoknya, pertempuran pun terjadi.

Sebelum mulai perang, Thariq mengatakan, “Ikutilah tujuanku. Kita bunuh rajanya, maka pasukan musuh ini akan berhamburan. Jika kalian melaksanakan instruksi-ku, pastilah kita akan menang”.

Pasukan Thariq (terutama baris-barisan terdepan) mengenakan pakaian persis seperti gambar yang ada dalam guci ‘mantra’ yang dibuka oleh Roderick. Dan raja itu pun khawatir dan sedikit merasa ‘ngeri’.

Pada akhirnya, Raja Roderick berhasil kena serang oleh pasukan Muslim. Namun, setelah perang usai, ia tidak terlihat. Menurut pasukan Roderick, rajanya melarikan diri ketika prajuritnya sedang berhamburan.

Salah satu alasannya, ditemukan sandal raja di antara semak-semak pinggiran sungai. Namun, ia sampai ke rawa-rawa dan akhirnya tenggelam. Sandal itupun dijadikan harta rampasan perang. Saking bagusnya, dihargai sebesar seratus ribu dinar.

Setelah pertempuran itu, Thariq terus menaklukan wilayah lain. Musa bin Nushair juga turut terjun ke medan tempur Andalusia. Anaknya, yaitu Abdul Aziz bahkan ikut terjun dan menaklukan seluruh kawasan barat Andalusia (sekarang Portugis).

Akhirnya, kedua panglima besar bertemu setelah dua tahun lamanya. Ya, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair pun bertemu. Setelah pertemuan itu, keduanya pergi menakluki kota-kota lain bersama-sama.

Hingga akhirnya, tersisa kota Ash-Shakhrah. Ketika pasukan Muslim berniat menyelesaikan penaklukan wilayah tersebut, terjadi sesuatu yang tidak terduga.

Ya, khalifah mengirim surat dari Damaskus agar kedua panglima itu kembali ke kota tersebut. Musa sangat sedih dan menyayangkan harus kembali kesana. Tapi, apa boleh buat.

Alasan khalifah memanggil keduanya dikarenakan :

1.. Khalifah merasa khawatir terhadap pasukan muslim yang sudah sangat jauh dari kampung halaman (Damaskus). Sedangkan ia, harus bertanggung jawab terhadap seluruh masyarakatnya. Karena kedua panglima itu sudah terlalu jauh, maka pasukan musuh bisa saja bersatu dan menyerang balik. Sedangkan pusat bala bantuan tidak bisa mengirimkan dalam waktu singkat

2.. Ia mendapat kabar kalau kedua panglima itu akan pergi menaklukan seluruh Eropa dan tujuan terakhirnya Konstantinopel dari arah Barat. Lalu mengapa? Sudah jelas, pasukan muslim akan masuk ke hutan yang sangat gelap dan terputus total dari bala bantuan.

Seperti yang tadi dibaca. Di Andalusia tersisa satu kota yang justru menjadi kebangkitan pasukan musuh. Apalagi kalau bukan Ash-Shakhrah. Menurut dugaan. Jika Musa & Thariq masih disana, mereka tidak akan membiarkan kota tersebut berada dalam kekuasaan Kristen.

– Bersambung –

Oke, sudah cukup panjang nih artikelnya. Itulah kisah Andalusia sebelum muslim datang dan penaklukannya. Cukup menarik bukan?

Simak kisah pahlawan-pahlawan Islam lainnya di masa kejayaannya : Ibnu Firnas & Al-Buzjani

Sekian dulu artikel kali ini. Wassalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *