KH. Muhammad Hasyim Asy’ari

Hasyim Asy’ari lahir di desa yang bernama Gedang( 2 KM dari Jombang, jawa timur sebelah utara) tanggal 14 Februari 1871 masehi. Sejak kecil Hasyim Asy’ari belajar di 4 pesantren.

Nama-nama pesantren tempat Hasyim Asy’ari belajar adalah, pesantren Wonoboyo Probolinggo,  pesantren Langitan Babad Lamongan, pesantren yang diasuh KH. Cholil Bangkalan Madura dan yang terakhirnya adalah pesantren Siwalan Panji Sidorejo. Oiya, Hasyim Asy’ari ini belajarnya dari kecil loh! Dia harus meninggalkan orangtua untuk menuntut ilmu.

Tahun 1891 Hasyim Asy’ari menikah dengan Khadijah, puteri KH. Yakub Siwalan Panji Sidorejo. Lalu beberapa hari setelah menikah, Hasyim Asy’ari beserta istrinya pergi ke Mekkah. Eh, istrinya Hasyim Asy’ari malah wafat disana. Jadinya Hasyim Asy’ari pulang ke Indonesia sendirian.

Setelah itu, Muhammad Hasyim Asy’ari menikah lagi dengan Nafiqah. Puterinya Kyai Ilyas. Setelah menikah dengan Nafiqah, dia memiliki beberapa orang anak. Salah satunya itu adalah Abdul Wahid Hasyim loh!

Muhammad Hasyim Asy’ari pernah belajar di Mekkah loh, dia bahkan juga jadi guru sebentar di sana. Muridnya Muhammad Hasyim Asy’ari cukup banyak loh, murid-muridnya ada yang berasal dari Burma, Thailand, Malaysia dan juga Indonesia.

 Oiya guru Hasyim Asy’ari di Mekkah bernama Syekh Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Khatib ini juga gurunya Ahmad Dahlan loh! Wah, ada nama Minangkabawi ya, berarti Syekh Khatib ini asalnya dari Minang ya!

Pulang ke Indonesia, Muhammad Hasyim Asy’ari membawa cukup banyak ilmu. Dan setelah itu, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di desa Tebu Ireng(dekat kota Jombang) dan madrasah-madrasah lainnya.

Belanda khawatir dengan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, karena dia bisa membuat bangsa Indonesia menjadi pintar-pintar. Makanya, Belanda mulai mengganggu Hasyim Asy’ari dengan cara halus, eh tetapi tidak berhasi. Setelah itu mulai agak keras caranya, dengan merusak dan menghancurkan pesantren Tebu Ireng.

 Karena itu belum puas, Belanda menyebarkan kabar kalau pesantren itu tempatnya para pemberontak dan pembangkang. Oiya, Belanda juga mencoba untuk menculik dan membunuh Hasyim Asy’ari. Tetapi para santrinya mencoba untuk melawan, dan akhirnya terjadi pertumpahan darah.

Selesai dari pertumpahan darah, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari melihat pesantrennya rusak cukup parah sebagian, benda-benda pentingnya juga habis, perabotan-perabotannya juga pada hancur semua. Tapi Muhammad Hasyim Asy’ari tetap sabar, keren ya!

Lalu, Hasyim Asy’ari mengirim utusan ke berbagai kota untuk membantu mendirikan pesantren itu. Umat islam pun menyambut seruan itu, sehingga pesantren Tebu Ireng berdiri kembali dan menjadi lebih besar dan kuat dari sebelumnya. Beberapa hari setelah itu, santri-santri malah menjadi puluhan ribu loh! Jadinya Muhammad Hasyim Asy’ari harus meluaskan pesantrennya.

Oiya, pesantren ini sejuk loh! Karena belakangnya adalah sungai, udaranya segar dan lingkungannya juga cukup tenang.

Tahu gak kalau beberapa panglima besar bersenjata memiliki hubungan langsung dengan Hasyim Asy’ari? Yap salah satu panglima besar itu adalah Jenderal Soedirman dan Bung Tomo.

Oiya, yang terakhir adalah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari juga pendiri NU(Nahdlatul ulama) yang artinya itu adalah “Kebangkitan para ulama”

KH. Muhammad Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 25 Juli 1947 di usia 76 tahun.

Sumber: pahlawan Indonesia

Penulis: Yudhistira Ikranegara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *