Ikrimah bin Abu Jahal, Si Penjunjung Rasa Persaudaraan

Saat Rasulullah mulai berdakwah, sebetulnya Ikrimah bin Abu Jahal ingin masuk Islam lebih awal, seperti sahabat-sahabat yang lain (Assabiqunal Awwalun). Tapi sayang sekali, ayah Ikrimah yang bernama Abu Jahal tidak mau masuk Islam.

Akhirnya Ikrimah masuk Islam saat penaklukkan Mekkah. Ikrimah tidak bisa masuk Islam lebih awal karena terhalang sifat ayahnya. Ayahnya sangat tidak suka sama Rasulullah, Ikrimah pun ikut-ikutan ayahnya memusuhi Rasulullah.

Saat perang Badar, Ikrimah ikut bersama ayahnya memimpin perang. Ayah Ikrimah gugur dalam peperangan itu, sementara Ikrimah menyelamatkan diri. Semenjak itu Ikrimah menyimpan dendam kepada kaum muslimin.

Beberapa lama kemudian terjadilah perang Uhud, Ikrimah ikut serta dan membawa istrinya yang bernama Ummu Hakim.

Saat Fathu Mekkah, Ikrimah dan beberapa orang menyerang kaum muslimin. Tapi sayang, pasukannya berhadapan dengan Khalid Bin Walid, jelas pasukan Ikrimah kalah. Ada yang gugur dan ada juga yang melarikan diri, salah satunya Ikrimah.

Ikrimah melarikan diri sampai ke Yaman, Ummu Hakim mengetahui kalau suaminya kabur karena takut kepada Rasulullah. Ummu Hakim pun masuk Islam.

Ia berkata kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, ampunilah suamiku Ikrimah” Rasulullah menjawab “Dia bebas!”

Ummu Hakim akhirnya mengejar Ikrimah bersama pelayannya, tapi di tengah perjalanan Ummu Hakim meninggalkannya di sebuah perkampungan, karena dia tidak baik. Ummu Hakim berhasil mengejar Ikrimah, saat ditemukan ia sedang berbincang dengan seorang pelaut.

Ummu Hakim menjelaskan kalau Rasulullah tidak jadi menghukum Ikrimah, Ikrimah akhirnya mau masuk Islam.

Saat terjadi perang Yarmuk melawan Romawi, Ikrimah mengikutinya. Ikrimah dan beberapa orang maju dulu untuk menyerang dengan sangat semangat.

Khalid selaku pemimpin kaum Muslim dalam perang itu berteriak, “Ikrimah! Kembalilah! Kematianmu adalah kerugian bagi kaum muslimin!”

Ikrimah, “Biarlah ya Khalid, biarkan aku menebus dosa-dosaku di masa lalu. Aku telah memerangi Rasulullah berkali-kali. Pantaskah aku lari dari pasukan Romawi ini? Tidak, sekali-kali tidak!”

Peperangan pun selesai, di sana terdapat tiga orang berjejer dalam keadaan luka parah. Mereka adalah Al-Harits Bin Hisyam, Ayyasy Bin Abi Rabi’ah, dan Ikrimah Bin Abi Jahal.

Al-Harits meminta air minum, lalu ketika tempat minum sudah dekat dengan mulutnya, ia melihat Ikrimah kehausan. “Beri kepada Ikrimah”.

Ikrimah yang hendak minum, melihat Ayyasy kehausan juga, ia berkata, “Berikan dulu pada Ayyasy”. Tapi, ketika sudah dekat, Ayyasy telah wafat. Orang yang memberi minum kembali pada Ikrimah, ternyata ia juga wafat. Balik ke Al-Harits, ternyata sudah wafat juga.

Itulah, sifat para sahabat Rasulullah. Ketika sudah masuk Islam, mereka langsung menjunjung tinggi konsep Islam, bahkan ketika sedang sakaratul maut. Betapa hebatnya mereka.

Baca juga : Utsman bin Mazh’un dan Shuhaib bin Sinan

Nah, itu tadi kisah Ikrimah bin Abu Jahal, salah satu sahabat Rasulullah saw. Cukup menarik bukan? Jadi, sekian dulu artikel ini. Wassalamu’alaikum warrah matullahi wabarakatuh!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *