Ending : Permulaan Untuk Puncak (Vol 9)

John terbatuk-batuk, debu dari tanah sempat masuk ke mulutnya. Sedangkan Ghadi memegangi lengannya yang tergores, orang itu sampai meringis.

“Bocah! Teknik berpedangmu hebat juga!” puji Ghadi

“Terimakasih, tapi itu masih bagian dasar. Aku masih perlu banyak berlatih.” ujar John

“Kalau begitu, mari kutingkatkan levelmu! Cobalah untuk menghindari serangan ini!” Si elemental pertama menghilang, lalu muncul dari belakang anak itu.

Dia melayangkan pedangnya dengan cepat. John langsung menahannya, bunyi dentingan yang cukup keras langsung terdengar.

Dari sisi lain, pertarungan dengan Ending volumenya juga masih tinggi. Start mulai menggunakan elemental apinya. Saking panasnya, itu sampai berwarna hitam.

Dua pukulan bertemu, menciptakan hembusan angin yang cukup kencang. Ending berteleportasi ke atas lawannya, mengirim tendangan angin. Tapi itu ditahan menggunakan tangan, lalu dibalas dengan pukulan bulan berlapis api.

Kris melesatkan anak panah berlapis kristal, mencoba mengacaukan fokus lawan. Sayangnya orang itu hanya memiringkan kepalanya, tembakannya malah mengenai batu.

Hamzah muncul dari kanan si manusia naga. Melepaskan tendangan dengan cepat. Ending terdistraksi, dia terkejut dengan serangan itu. Akibatnya, orang itu terkena dua serangan secara langsung. Tendangan Hamzah dan pukulan api Start.

Punggung Ending dan Ghadi bertemu, mereka membuat jarak dengan lawan masing-masing. Lalu dua orang itu kembali melesat mengirim serangan.

“Tiga puluh persen : Hantaman elang!”

“Persegi angin!”

Dua rekan itu melesat bersama, mencoba untuk menghabisi lawan. Tapi tekad Start, Kris dan teman-temannya masih kokoh. Meski terhempas seberapa jauh pun, mereka tetap kembali.

Bintang-bintang sudah terlihat dengan indah. Kegelapan yang dibuat John menjadi hilang bila malam sesungguhnya tiba. Pertempuran sudah berlangsung sejak jam tiga siang, dan ini sudah jam delapan.

“Aurora : Tarian cahaya!”

“Tebasan Al-Ma’thar : Penghancuran meteor!”

Kali ini, suara ledakan terdengar. John memandang mata lawannya dengan sinis, lalu dia melompat mundur.

Sinar aurora diantara kegelapan malam yang pekat. Memperindah langit kutub. Menari bersama dengan bintang-bintang.

“Lingkaran aurora : Bintang bersinar!!”

Anak itu muncul di depan lawannya dengan posisi merunduk. Dia mengayunkan pedangnya yang dikelilingi sinar hijau. Ghadi mencoba menahannya tapi orang itu tetap terlempar.

Meski sudah jatuh berdebum dengan keras, si elemental pertama bangkit lagi dengan wajah menyeringai.

“Hebat, kalau begitu sekarang giliranku ya. Bocah”

Al-Ma’thar, menebas ribuan musuh. Menari-nari diatas ribuan pedang. Mendentingkan bunyinya di setiap pertempuran. Keluarlah, kekuatan penuh replika pedang legendaris.

“Kristal cahaya : Tiang petir!!”

John mengerang kesakitan. Dari bahu kiri kini terbentuk luka sepanjang 9 sentimeter. Mungkin itu tidak akan hilang selamanya. Dan kalau lebih panjang sedikit, dia bisa mati.

Satu pertarungan sudah terselesaikan. Ghadi duduk meluruskan kakinya, mengatur napasnya yang terengah-engah. Tenaga bertempurnya sudah habis. Jadinya dia tidak bisa membantu rekannya, dan harus menunggu.

***

Ghazi melesatkan anak panah ledakannya. Setiap busur elemental memiliki jurus biasa dan jurus spesial. Dan miliknya bisa menambahkan efek ledakannya setiap menembak anak panah. Batas maksimumnya sedahsyat letusan Gunung Tambora.

Ending mulai kewalahan, dia sendirian melawan lima orang dengan kemampuan spesial masing-masing. Akhirnya tanpa banyak bicara, orang itu mengaktifkan jurus terakhir.

“Aktiflah, mode mata!”

Matanya kembali mengeluarkan sinar merah putih seperti pertempuran waktu itu. Start langsung waspada. Alasannya karena mode kedua bisa meningkatkan kekuatan fisik dan sinarnya juga bisa menyerang lawan dengan telak.

“Bersiaplah! Aku datang!!”

Target pertama adalah para sniper, menurutnya itu bisa menganggu pertarungannya nanti. Kris dan Ghazi berusaha menembak habis-habisan. Tapi karena kekuatan fisik lawannya meningkat, semua anak panah itu terpatahkan.

Tiba-tiba, di kepala Kris muncul sebuah suara. “Sepertinya kamu lagi kerepotan? Bolehkah aku membantumu?”

Kris menjawabnya memakai telepati juga. Di alam bawah sadar, Shadow menghembuskan napas. Orang itu akhirnya menyetujuinya.

Dua anak itu bergerak menghindar dari pukulan lawannya. Ali, Hamzah dan Start mencoba menghentikannya.

“Penyemburan magma!” Ali kembali menggunakan jurus pertamanya ketika pertama kali memasuki tingkat keempat elemental.

“Tombak sinar!” Ending membalasnya dengan memalingkan mukanya. Karena gerakan itu sangat cepat, sinar merah putihnya menjadi panjang seperti tombak.

Ali menahannya menggunakan perisai biru peraknya. Tapi benda pelindungnya itu tetap retak meski sudah di upgrade.

Start berteleportasi ke atas lawannya. Melesatkan pukulan berlapis api hitamnya dengan cepat. Si manusia naga langsung melompat ke kanan. Bunyi dentuman langsung menyahut karena mengenai tanah.

Hamzah lalu menyusul untuk menutupi celah. Dia melepaskan tendangan menggunakan jurus bela diri khasnya. Ending menahannya dengan menyilangkan kedua tangannya, tapi orang itu tetap terdorong.

Mata lawannya berkilat, kini dia marah karena terdesak terus menerus. Dan yang menyebabkannya hanya lima anak kecil. Orang dengan rambut sedikit putih itu memejamkan matanya. Lalu membukanya dengan cepat.

Posisi sinar merah putihnya kini menjadi garis vertikal, bukan horizontal lagi. Selain itu, sekarang dalam satu bola mata terdapat warna merah putih secara bersamaan.

Ending mendadak muncul dari belakang Hamzah dan Ali. Dua anak itu terkejut, tapi mereka terlambat membentuk perlindungan. Lawannya sudah melepaskan pukulan yang menyakitkan.

Dia sekarang berteleportasi ke belakang pemanah es. Kris sempat melayangkan pukulan berlapis kristalnya, sayangnya itu hanya mengenai udara. Dia terhempas ke arah pepohonan.

Ghazi yang melihatnya langsung menembak anak panahnya ke belakang. Tapi Ending mengambil posisi berbeda. Orang itu muncul dari kanan musuhnya, melayangkan tendangan.

Target terakhirnya adalah si manusia berkekuatan bulan. Si manusia naga muncul dari atas lawannya. Meski berhasil ditahan, Ending masih mengaktifkan mode mata, Start seketika jatuh berdebum ke tanah.

“Hahaha! Lihatlah, aku akhirnya memenangkan ini!” suaranya bergema di tengah hamparan rumput itu.

Tapi secara tiba-tiba menyembur kristal dari tanah. Mata kiri si manusia naga langsung berdarah. Dia meringis kesakitan dan dari ekspresinya orang itu masih mengatur napas karena terkejut.

Dalam waktu yang sama, Ghadi melompat mundur ke arah rekannya. Ending memandang heran. Tapi begitu melihat ke arah yang ditunjuk, dia langsung mengerti.

Dua mata bersinar dalam kegelapan malam. Memanggul senjata masing-masing. Apakah pertempuran ini masih berlanjut? Milik siapakah mata yang bersinar itu?

 

Bersambung ke : Ending (Vol 10)