Ending : Kepingan Kedua (Vol 6)

Perlombaan untuk mengumpulkan replika senjata legendaris dari klan Badai sudah dimulai. Antara Start, Kris serta teman-temannya dengan Ending dan Ghadi.

Si manusia naga dan elemental pertama belum tiba di lokasi kedua. Meski sudah berteleportasi duluan, tempat sesungguhnya belum di ketahui. Sedangkan Kris dan yang lainnya sudah sibuk menghindari serangan panah lawan.

“Hahaha, menyerah saja. Aku adalah pemanah jitu dari klan Badai! Kalian tidak bisa menembus penjagaanku!” ejek si pemanah

“Berisik! Apa kamu menyombongkan busurmu yang bisa mengisi ulang sendiri anak panahnya? Punyaku juga bisa!” balas Kris

Dua orang itu menembakkan anak panahnya bersamaan. Dan mereka sama-sama nyaris kena bila tidak memiringkan kepalanya.

“Hebat! Kamu nyaris membuatku terancam!” seru pemanah di atas menara

Kris menggarukkan kepala, sebenarnya itu hanya kebetulan. Tadi dia belum selesai membidik sementara anak panah lawan sudah melesat. Tanpa banyak bicara, langsung saja dia lepaskan.

“Karena kalian tadi sempat memperkenalkan diri, izinkan aku melakukannya juga.”

Orang itu melompat turun dari atas menara. Start, Kris dan teman-temannya langsung siaga. Siapa tahu dia malah menembak anak panahnya.

“Aku Ghazi Al-Ghifari, 12 tahun dan sedang ditugaskan untuk menjaga menara ini selama tiga tahun. Dan ini baru tahun kedua.” jelasnya riang

Kelompok itu mengerutkan kening, ternyata penjaganya masih anak-anak. Kirain sudah tujuh belas atau lima belas tahun.

“Maaf, tapi bukankah kami ini musuhmu? Kami mencoba mengambil benda replika yang berada di bawah penjagaanmu.” kata Kris

“Oh itu? Memang sih kalian mau mengambil benda ini. Tapi dari kemampuanku, aku tidak merasakan bahaya sama sekali.” jawabnya masih dengan wajah riang

Ghazi tiba-tiba saja melempar benda yang kami cari. Ali dengan cepat menangkapnya menggunakan tangan buatan.

Si pemanah langsung menghampiri Ali. Meraih tangan buatan yang mau disimpan lagi, dia memperhatikan dengan antusias.

“Wah, ternyata diantara kalian ada ilmuwan juga? Aku kira cuman petarung saja.” ucapnya

“Iya dong. Kalau tidak ada, mereka harus ke bengkel untuk memperbaiki alat yang sudah rusak.” ujar Ali bangga

Ghazi tertawa, sedangkan Kris dan dua temannya menggeleng-gelengkan kepala. Start hanya memperhatikannya tanpa berbicara.

“Pengganggu! Minggir dari sana!!” sebuah suara mendadak muncul dari langit. Bersamaan, bunyi berdentum menghantam tanah. Dibalik kepulan asap, nampak siluet dua orang.

Lima orang itu langsung waspada, sedangkan Ghazi memandanginya dengan bingung. Sudah diduga, mereka adalah si manusia naga dan elemental pertama.

Takdir telah mempertemukan mereka kembali

***

“Serahkan bagian kedua replika legendaris itu!” seru elemental pertama

“Bagian kedua? Kalian sudah mengambil bagian kesatu!? Berarti A-Storm sudah kalah?” tanya Ghazi dengan suara keras

“Oh, jadi kamu penjaganya? Serahkan benda itu!” balas Ending sengit

Ghazi mendengus, dia menunjuk Ali. Benda yang kalian cari ada di anak itu. Ali terkejut ditunjuk seperti itu, dia langsung melemparnya ke Kris.

“Ali, jangan sembarang melemparkan sesuatu tahu. Ini bisa rusak.” protes Kris

Yang di protes hanya nyengir, tidak merasa bersalah sama sekali. Ghadi dan Ending terkejut melihat benda itu dilempar begitu saja. Berarti si penjaganya ini sebenarnya lemah?

Mereka berdua berpandangan, kemudian menyeringai. Dalam sekejap, dua orang itu sudah berteleportasi ke arah Kris. Start dengan cepat menyusul lawannya. Dua serangan mendadak itu berhasil ditahan, menciptakan efek getaran ke sekitar.

Ghazi langsung mengeluarkan kembali busurnya. Meski tidak tahu siapa musuhnya, tapi sepertinya berbahaya. Kris dan teman-temannya juga melakukan hal yang sama.

Kris dan Ghazi kembali menembak bersamaan. Suara ledakan meraung dengan keras, pecahan kristal berhamburan dimana-mana.

“Hei! Kenapa kristalku malah terpecah seperti itu.” kata Kris

“Maaf deh. Busur milikku ini kekuatan spesialnya adalah ledakan, jadi hati-hati ya.” jelas Ghazi

Suara berdentum terdengar lagi. Ali berhasil menahan serangan mendadak itu memakai perisai birunya.

“Jangan mengobrol kawan, kita lagi bertempur.” ucap Ali

Dua pemanah itu nyengir, mereka kembali mengangkat busurnya. Ghadi mendengus, enam melawan dua bukankah kurang seimbang.

Dia dan manusia naga sibuk melawan Start bersama-sama. Dua orang itu tidak mempedulikan anak-anaknya, serangan dari mereka bisa dihindari. Tapi sekarang sudah kurang mudah.

Si elemental pertama meletakkan tangannya ke tanah. Kemudian dia mengucapkan sebuah mantra, “Waktu mengalir tiada batas, menentang kosmos yang sudah ditetapkan. Untuk waktu selama sepuluh menit. Untuk memperlambat serangan lima sekawan. Keluarlah teknik terlarang

“Perlambatan waktu : Ksatria pengendali!”

Dalam sekejap, semua serangan yang dilancarkan Ghazi, Kris dan teman-temannya menjadi lambat. Seperti sebuah slow motion.

Ghadi tertawa, dia sekarang bisa melihat semua serangan yang diluncurkan. Orang itu kembali fokus ke pertarungannya.

“Ternyata orang itu punya jurus memperlambat waktu? Hebat dong!” kata Ghazi antusias

“Hebat apanya. Serangan kita jadi melambat tahu.” protes Hamzah

“Memangnya di klan kamu tidak ada orang yang memiliki kekuatan dahsyat?” tanya Kris

“Ada, tapi aku tidak mau membahasnya.”

“Lebih baik bahas bagaimana mengatasi jurus ini dan membantu Master Start.” ujar John

Ghazi mengangkat bahu. Ekspresi wajahnya seperti mengatakan, kita tunggu saja sampai sepuluh menit berlalu, kenapa harus repot.

Start tiba-tiba terhempas ke arah kami. Dia membersihkan sedikit darah yang keluar dari mulutnya. Disana Ending berdiri tegak, kedua matanya mengeluarkan sinar merah putih.

Ghadi juga terhempas ke arah pepohonan. Dia sudah pingsan. Teknik perlambatan waktu yang ‘mengunci’ kami seketika terlepas. Sepertinya salah satu syaratnya adalah si pengguna harus dalam kondisi sadar.

“Hahaha, begitu saja sudah terhempas? Kamu sepertinya melemah Start!” teriak Ending

Start memegangi bahunya, tadi dia terpukul tepat disana. Si manusia naga tertawa dengan keras, seakan orang itu sudah tidak sadarkan diri.

Orang itu mendadak muncul diantara mereka berenam. Kemudian melakukan tendangan berputar, kami semua seketika terhempas.

“Aktifkan mode matamu Start! Kita akan bertarung seperti dulu lagi, mari kita mengulang sejarah!” teriak Ending dengan tawa lebar

“Aku tidak bisa menggunakan mode mataku. Syaratku belum terpenuhi.” jawab Master S

“Hahaha, pantas saja dulu kamu langsung mengaktifkan mode spesial.” ledek si manusia naga

Kris memperhatikannya dalam diam. Teman-temannya sudah pingsan karena tendangan tadi, apalagi Ghazi menubruk pohon.

Orang itu melayangkan pukulannya, Master S seketika berkelit menghindarinya. Kali ini si manusia naga melancarkan tendangan angin.

Para petarung klan termaju di alam semesta mempunyai tiga mode. Mode elemental, mode mata dan mode spesial. Untuk yang pertama, itu harus menjadi dasar seorang petarung.

Mode mata. Hanya bisa digunakan jika si petarung sudah menguasai tingkat tertinggi dari mode pertama. Kemudian berlatih di sebuah ruang kegelapan.

Mode ketiga. Tidak semua orang bisa menggunakannya, karena ini mengandalkan potensi diri sejak kecil. Tapi terkadang ada yang bisa memakainya jika sudah berlatih ratusan tahun.

Start sudah mengaktifkan mode pertama dan ketiga. Api lah yang menjadi mode dasarnya. Sedangkan teknik segel dan teknik bulan yang menjadi mode spesial.

Si manusia naga menggeram, dia berubah ke wujud naganya. Lalu menggerakkan ekornya untuk menghempaskan apapun. Master S mengeluarkan perisainya, itu sangat kokoh.

“Ending! Aku sudah mendapatkannya, mari kita segera pergi!” si elemental pertama berteriak secara tiba-tiba

Dua orang itu menoleh bersamaan. Disana Kris sudah dalam kondisi terengah-engah. Tadi anak itu mencoba mempertahankan replikanya mati-matian.

“Hahaha, kerja bagus. Rupanya kamu berguna juga, kalau begitu cepat buka portalnya!” perintah si manusia naga

Dalam sekejap, lawannya itu menghilang. Menyisakan ruang bagi senyap untuk menghampiri. Langkah apa yang harus dilakukan agar bisa menyusul musuh?

 

Bersambung ke : Ending (Vol 7)