Ending : Teknik (Vol 4)

“Aku sebenarnya bermaksud mengatasi Ending sekali lagi sendirian. Tapi sempat terdengar kabar kalau ada empat anak yang melawan makhluk itu. Aku pun langsung mendatangi lokasi tempat anak-anak itu tinggal dan langsung menemukan kalian.” jelas Start panjang lebar

“Jadi bapak mengetahui kebangkitan sang naga?” tanya Ali penasaran. Tapi dia menjadi salah tingkah melihat Start melotot kearahnya.

“Usiaku belum lebih dari tujuh puluh ribu tahun. Panggilan itu hanya untuk orang yang berusia seratus ribu tahun. ‘Master Start’ panggil aku seperti itu.” jawabnya

Ali menganggukkan kepalanya, Kris dan Hamzah nyengir melihatnya. John yang baru bangun mengerutkan kening melihat ada satu orang lagi yang duduk bersama mereka.

Hamzah mengajak temannya duduk di kursi. Setelah itu, Start memperkenalkan dirinya lagi dan tujuannya berada disini.

“Cepat bersiap, kita langsung menyerbu makhluk itu sekarang juga.” katanya

“Master Start, sekarang? Tapi latihan kami belum selesai” ucap John

“Kalau begitu kamu sendirian disini dan lawanlah robotku untuk latihan. Kami berempat langsung pergi.” jawabnya melotot

John akhirnya berjalan lesu, dia langsung menuju lokasi pedangnya terletak. Anak itu tidak mau melawan robot Master S sendirian karena menurutnya pasti sama mengerikannya.

Master S mengamati kami dengan teliti. Dia selalu saja berbicara tentang mana yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Ali dan Hamzah menggerutu, mereka paling tidak suka diatur seperti ini. Kris dan John hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lebih cepat! Kenapa kalian lama sekali. Sudah dua menit aku menunggui kalian!” teriak Start

“Baik Master Start! Kami akan mempercepatnya!” jawab Hamzah

“Jangan menjawabnya! Kamu hanya membuat waktu menungguku lebih lama sepuluh detik tahu. Tiga puluh detik lagi kita berangkat!”

Hamzah menggerutu lagi. Akhirnya persiapannya selesai, tapi kami terlambat satu detik dan langsung diomeli sejenak.

Setelah meneriakkan kata terbuka, sebuah portal teleportasi muncul dalam sekejap. Start memberi tahu berapa lama perjalanan ini, hanya empat menit.

Di tengah perjalanan, “Teman-teman, Master Start itu terlalu disiplin ya. Yang benar saja, dua menit dibilang lama.” bisik Hamzah

“Tapi menurut Master S sepertinya sudah cukup terlambat Hamzah. Dia kan komandan lima armada itu.” timpal John

Kris dan Ali menganggukkan kepala. Bagi seorang komandan, mereka harus menjaga orang-orang yang dipimpinnya. Sikap disiplin pun sangat diperlukan.

“Hentikan percakapan kalian dan segera mempersiapkan diri! Ujung portal sudah terlihat.” perintah Start

Empat sekawan itu dengan cepat mengeluarkan senjata masing-masing. Berarti ini pertemuan kedua mereka dengan sang naga.

***

Tepat mereka berlima keluar, suara ledakan langsung menyambut kami. Ending dan Ghadi sedang tertawa senang melihat penghancuran kali ini juga berhasil.

Tapi sang naga langsung menyadari kehadiran kuat lainnya. Seketika dia menoleh ke belakang dan terkejut melihatnya.

“Start! Apalagi yang mau kamu lakukan, hah!?”

Ghadi akhirnya menoleh ke belakang juga. Orang itu terkejut dengan kehadiran Kris dan teman-temannya dan bingung melihat orang kelima.

“Lama tidak bertemu Ending. Bagaimana kabarmu?”

Yang ditanya hanya mendengus. Ghadi akhirnya mencoba menjawabnya, “Kabarnya setelah bangkit baik-baik saja. Tujuan kami sekarang adalah menghancurkan sepuluh negara dan membentuk kelompok terkuat.”

Start berteleportasi tepat di depan si elemental pertama dan melihat matanya, “Aku bertanya pada makhluk naga itu. Kamu diam saja.”

Ghadi akhirnya mengangguk. Meski tidak ada aura atau semacamnya, tapi volume suaranya cukup mengintimidasi.

Sementara itu, Kris dan teman-temannya mulai duduk-duduk. Mereka sedikit bosan berdiri terus dari tadi, bahkan pertarungan pun belum mulai.

Kesunyian yang berlangsung selama lima menit akhirnya pecah dengan raungan sang naga. Tujuh makhluk itu langsung menerjang lawannya.

Start dan Kris melawan si makhluk bersayap. Sementara tiga temannya melawan sang elemental pertama. Kepulan asap semakin membumbung tinggi.

Orang dengan inisial S membuka portal teleportasi membawa mereka bertujuh ke sebuah tempat. Sebuah padang pasir yang luasnya sekitar seratus meter persegi dan bertempat di negeri garuda.

Ending meraung terkejut, membuat pasir beterbangan tinggi. Dalam dua detik, dia berubah wujud menjadi manusia bertopeng. Lalu melanjutkan dengan serangan angin.

Start tertawa melihatnya, orang itu menepis serangan angin dengan begitu mudahnya. Lalu dia berteleportasi dari atas, mengirim pukulan.

Lawannya tahu tinju Start yang paling mengerikan bukan karena dilapisi elemen, tapi karena tenaganya. Dia langsung berteleportasi lima belas meter dari tempatnya berdiri.

Sayangnya, Kris sudah menembakkan jurus garis kristalnya tepat di tempat dia muncul. Sontak orang itu terjatuh. Start yang melihat kesempatan, langsung muncul dan melayangkan pukulannya.

Ending menggeram, dia kembali ke wujud naganya dan menembakkan raungan cahaya. Kris dengan cepat membuat perisai kristal, sementara Start malah menerjang tembakan itu.

Di sisi lain, pertarungan Ghadi melawan Hamzah dan dua temannya juga berlangsung seimbang. Tiga anak itu berhasil menyetarakan jarak kekuatan yang muncul di awal pertarungan.

Aurora terus berkelebat, serangan pedang serta magma juga melesat dimana-mana. Ghadi kali ini fokus menggunakan kekuatan ruangnya. Dia telah menelan belasan serbuan itu ke dalam ruang hampa.

Si elemental pertama meningkatkan serangan jaring petirnya. Membuat Hamzah dan dua temannya sedikit kewalahan. Tapi mereka bertiga kembali mencoba untuk menantangnya.

Hamzah berusaha untuk mengendalikan petir-petir itu. Kemudian dikirim ke Ali secepat mungkin. Dengan sigap, Ali menyerapnya menggunakan teknologi. Lalu dilemparkan lagi dalam bentuk magma.

John mengambil inisiatif untuk melapisi pedangnya dengan magma. Dia berteleportasi tepat di lintasan serangan.

Dalam sekejap, magma itu berhasil melapisi pedangnya. Anak berusia empat belas tahun itu mencoba membuat elemental perpaduan. Dia perlahan menambahkan elemen auroranya.

Dua belas detik kemudian, John muncul tepat di depan Ghadi. Benda tajam itu kini memiliki corak garis merah dikelilingi sinar hijau.

“Senja kemerahan : Sinar Mentari!”

Ghadi tidak sempat menghindar karena jaraknya terlalu dekat. Akibatnya, sebuah luka tercipta di dekat alisnya. Dia meringis kesakitan, untungnya tidak terlalu dalam.

“Bulan purnama : Membelah Awan!”

Tebasan itu lagi-lagi mengenai Ghadi dan meninggalkan jejak di bahu kanannya. Si elemental pertama langsung membalas dengan ‘petir teleportasi’.

Jurus itu berbeda dengan jaring petir yang harus menggunakan portal-portal. Petir teleportasi bisa mengenai lawan kemudian ‘menghilang’ lagi. Bisa dibilang jurus tingkat tinggi.

Tiga anak itu reflek meringis kesakitan. Kalau saja volt listriknya lebih tinggi, mereka bisa kalah. John kemudian bangkit dari duduknya. Membuat posisi berlutut dengan tangan memegang tanah.

“Pengendalian cahaya : Kegelapan Malam”

Dalam sekejap, area pertempurannya menjadi lengang. Bahkan pertarungan Ending melawan Start dan Kris terhenti. Tapi suasana sepi itu terpecahkan dengan raungan kesakitan sang naga.

“Kegelapan Malam : Bulan Bersinar”

Sang naga meraung lagi, dia langsung berubah ke wujud manusia. Berteleportasi ke belakang lawannya, melancarkan pukulan angin.

Start menoleh ke belakang dan dengan cepat membuat perisai. Benda itu mempunyai bentuk seperti bulan purnama.

“Hei, rupanya kekuatan bulanmu sudah meningkat Start?”

“Diamlah!”

Kris lalu menembakkan anak panah kristalnya. Orang beralis sedang itu reflek melompat ke samping untuk menghindar.

Sayangnya anak panah itu cuman serangan tipuan. Tepat dia mendaratkan kaki, Start muncul dari kiri tubuhnya.

“Pukulan bulan : Ujung Sabit!”

Ending memegangi bahunya yang sakit. Dia kembali ke wujud naganya supaya kesakitan itu sedikit berkurang.

***

Di sisi lain, pertarungan Hamzah dan dua temannya berjalan sangat lancar. Meski arti namanya singa bercahaya, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Ghadi kurang mahir bertarung dalam kegelapan. Sehingga dia hanya bisa menduga arah serangan. Berbeda dengan tiga sekawan ini, mereka dengan lincah bergerak dalam kegelapan.

Itu dikarenakan Ali mempunyai teknologi yang bisa melihat dalam gelap. Dia membuatnya tepat ketika John mengalami ‘peningkatan‘ elemental. Dengan bantuan klon cerdasnya, benda itu selesai dibuat dengan cepat.

Benda itu memiliki warna hitam pekat dan tentu bentuknya seperti kacamata. Kerja sama serangan mereka benar-benar kompak.

Tapi Ghadi Al-Chair tidak mau kalah begitu saja. Sebagai orang yang menyandang gelar ‘si elemental pertama’ dia punya banyak cara. Orang itu menyentuhkan tangannya ke tanah. Sejenak dia memejamkan matanya, kemudian berseru.

“Terbukalah, teknik tingkat tinggi. Tirai Petir!”

 

Bersambung ke : Ending (Vol 5)