Ending : Benar-Benar Kejutan (Vol 3)

“Kalian pasti beberapa menit yang lalu baru saja dari segel Nebula Merah bukan? Berikan harta yang kalian bawa dari sana.” perintah salah satu dari mereka

“Eh, maksudnya?”

“Seminggu lagi, kelompok Phoenix Biru akan membuat penemuan besar. Kami mendapat info kalau di segel Nebula terdapat senjata-senjata. Tapi begitu kesana, kami malah diserbu naga dan orang aneh. Jadi tidak ada lagi yang mengambilnya kecuali kalian!” jelas sang ketuanya

Kris dan teman-temannya berpandangan. Akhirnya mereka berempat mengeluarkan semua benda itu, kecuali barang-barang yang mereka sukai.

Lima orang itu mengamati barang-barang dengan cermat, tapi mereka langsung menunjukkan ekspresi benci.

Sang ketuanya berseru, “Heh, barang-barang ini masih kurang! Kalian masih menyembunyikan beberapa bukan? Cepat berikan semua!”

“Tapi kami sudah memutuskan kalau senjata ini akan menjadi kartu andalan. Tidak akan kami berikan!” jawab Kris

Sang ketua mengangkat dagunya, memberi tatapan merendahkan. Bersamaan, dia mengangkat tangannya dan dalam sekejap cahaya menjadi hilang. Empat sekawan itu berseru kaget ketika sebuah pukulan dalam gelap melayang seketika.

John mencoba menggunakan sinar auroranya untuk mengembalikan cahaya. Tapi itu cuman berlangsung lima detik kemudian gelap lagi.

“Kalian berempat masih belum menguasai tingkat tertinggi elemental bukan? Kasihan sekali. Tingkat itu ialah bisa menguasai elemen alam yang berada di sekitar. Karena elemenku cahaya, aku bisa memanipulasinya menjadi kegelapan. Hebat bukan?” jelas sang ketua

Kami akhirnya memutuskan memprediksi arah serangan. Ali yang menurut kami memiliki indra paling tajam, diharuskan memberi tahu darimana serangan tiba.

“Kanan!”

Kami berempat berhasil menghindarinya dan John mencoba memberi balasan. Tapi hanya mengenai udara.

“Kiri dan atas!”

Empat anak itu berpencar menjadi dua-dua. Setelah menghindar Ali mengirim serangan laser berbelok, lagi-lagi mengenai udara.

Kris mencoba melesatkan anak panahnya ke sembarang tempat. Mungkin saja salah satu serangan itu mengenai lawan. Mendadak, terdengar suara berdebum orang jatuh.

Dalam sekejap, kegelapan itu menghilang. Disana terlihat seseorang terduduk di lantai dengan darah dari tangannya.

“Sudah kubilang apapun yang terjadi jangan mengucapkan apapun! Kamu selalu menggangggu rencana!” bentak sang ketua

“Tapi, anak panah itu sangat tajam. Aku tidak bisa menahan rasa sakit di tangan ini.” jawabnya

Orang bertubuh tinggi itu mendengus. Lalu dia menoleh kearah Kris dan teman-temannya. “Aku akan pergi membawa benda-benda yang kalian berikan. Tapi ingat, kami akan terus mengincar senjata yang disembunyikan itu. Mengerti?”

Empat sekawan itu mengangguk, syukurlah mereka pergi. Kami langsung sibuk lagi dengan rekaman ‘kotak hitam’ itu.

***

“Ending, tujuan penghancuran berikutnya adalah negara terkaya di dunia. Cepat kita segera terbang.” perintah Ghadi

Yang diajak bicara hanya mengangkat kepala lalu memejamkan mata lagi. Ghadi yang melihatnya mendengus, orang itu menghampiri sang naga.

Kemudian membisikkan kalimat, “Kalau kamu tidak mau, aku bisa mengambil lagi benda itu untuk membuat kau tersegel kembali.”

Ending langsung berdiri dan membuka sayapnya, “Aku bosan berada disana puluhan ribu tahun. Lebih baik menghancurkan daripada tertidur, cepat berangkat!”

Sang elemental pertama menyeringai. Kombinasi mereka untuk penghancuran memang cocok. Dia sebagai manusia terkuat dalam sejarah dan Ending sebagai makhluk terkuat.

Sebuah portal terbentuk menuju tujuan. Dan dalam sekejap negara yang mereka targetkan hancur seketika. Ghadi dan Ending tertawa bersama, puas menyaksikannya.

Jauh dari sana, Kris dan teman-temannya sedang melakukan latihan bertanding. Empat anak itu melakukannya dengan serius seperti melawan musuh berbahaya.

“Kristal Gletser!”

“Ksatria Cahaya!”

Suara berdentum meraung kencang, efeknya asap mengepul dimana-mana. Kris melesat untuk yang kesekian kali. Latihan tanding baru dihentikan jika serangan itu mengancam nyawa.

Hamzah dan Ali sebagai pengawas melihatnya dengan tegang. Meski ini ide sang ketua, tapi aneh melihat mereka bertanding.

John muncul dari atas anak berambut lurus dan bersiap untuk menusuk. Kris dengan cepat membuat perisai kristal. Dilanjutkan dengan menurunkan suhu ke minus lima derajat.

Anak bertubuh tinggi itu mencoba menahan dinginnya udara. Dia terus berteleportasi mengelilingi arena, sambil melancarkan serangan jarak jauh.

“Garis aurora!”

“Ombak kristal”

Ribuan kristal biru keluar seketika dan bergerak seperti banjir. John yang melihatnya langsung mengambil posisi menyerang.

“Siluet naga : Raungan Cahaya!”

Dalam sekejap, benda-benda biru itu berhamburan. John melesat dengan mata yang sedikit bersinar kehijauan. Kris terkejut, anak itu langsung melesatkan puluhan anak panah gletser.

Tapi yang melesat seperti bukan John. Karena, anak itu berhasil mematahkan semuanya dalam sekejap. Kris menjadi lebih terkejut melihat pedang temannya. Rupanya sudah berganti ke pedang yang diambil dari kutub itu.

Ali langsung mematikan sistem pelindung arena, dia melesat kearah Kris. Hamzah pun demikian, mereka harus menghentikan temannya itu.

“Dinding magma berawan!”

John menembusnya dalam sekejap, dinding penghalang yang dibuat Ali dan Hamzah tidak berefek.

“Pedang aurora : Kegelapan galaksi”

Tanpa banyak bicara, sekeliling kami menjadi gelap. Tiga anak itu saling beradu punggung, saling bersiap dengan segala kemungkinan. Tapi itu tidak berlangsung lama, satu menit kemudian terlihat sebuah logo bulan bersinar.

“Hilang kesadaran adalah proses menuju tingkat tertinggi penguasaan elemental. Namun kamu tidak boleh membahayakan nyawa teman-temanmu, nak John.”

Kegelapan sirna seketika, di depan empat anak itu berdiri seseorang dengan tubuh tinggi. Dengan jubah berwarna hitam. John terbaring pingsan di dekatnya, Hamzah langsung berteleportasi membawanya kemari.

“Apa yang mau kamu lakukan disini!?” seru Ali

“Kebetulan tadi aku lewat di depan markas kalian. Dan ternyata ada orang yang mengalami perubahan elemental. Sedangkan ada tiga anak yang terdesak, jadi kubantu saja.” jelas orang itu

Ali berjalan mendekat kearah orang itu dan menatap dengan tajam. “Kamu tidak akan bisa membahayakan nyawa teman-temanku. Meski kau orang dari legenda, aku tidak pernah takut. Apa urusanmu disini, Start!?”

Kris dan Hamzah terkejut melihat tingkah temannya. Benar-benar tidak sopan berbicara seperti itu. Sedangkan orang yang ditanya hanya tertawa.

“Pengamatanmu sangat tajam anak muda. Dari mana kau tahu aku Start? Kalau begitu, mari kita bicarakan urusan ini.”

 

Bersambung ke : Ending (Vol 4)