Ending : PPMB (Vol 12)

Kris berjalan ke arah John. Kemudian mengangkat tangan temannya itu dan memberikan Al-Ma’thar. Anak berusia empat belas itu terkejut dan menanyakan apakah pedang ini benar-benar untuk dia.

“Tentu saja, kamu lebih jago menggunakannya dibanding yang lain.” jawab Kris dengan wajah nyengir

“Terimakasih kawanku, kalau begitu mari kita lanjutkan lagi? Lihatlah, muka paman itu seperti mau meletus melihat kejadian ini.” canda John

Orang yang dimaksud mengepalkan tangannya dengan kencang. Dia masih mengatur napas setelah pertarungan sebelumnya. John menyimpan pedang miliknya dan mulai menggerak-gerakkan Al-Ma’thar.

Hamzah membungkukkan badannya sambil mengangkat tangannya, “Ayo kita maju.”

Mereka berempat sudah melesat saling menukarkan serangan. Ini adalah pertempuran puncak sebelum semuanya berakhir.

Start membuka matanya, dia melihat Ghazi yang duduk termenung menyaksikan pertempuran. Orang pengguna kekuatan bulan itu menghampirinya.

“Kamu tidak mau membantu mereka?”

“Tidak, aku hanya ingin melihatnya.”

“Memangnya kenapa? Bukannya pertarungan itu bisa lebih cepat selesai kalau semakin banyak yang membantu?”

Ghazi memangku dagunya, tidak menjawab. Start akhirnya menghembuskan napas, dia akan memperhatikan sebentar sebelum bertarung lagi.

Tiga anak itu melompat mundur bersamaan, membuat jarak. Ending pun mengusap matanya yang kemasukan debu. Mereka bertiga lalu mengirim serangan bersamaan.

“Al-Ma’thar : Tarian aurora”

“Kesunyian diantara awan : Awan hitam”

“Panah kristal : Ombak biru”

Si manusia naga memandangnya dengan ekspresi datar. “Kalian mau mengepungku melalui tiga arah? Tapi masih ada dua celah, loh.”

Ia menghilang dan muncul dari atas lawannya. Orang itu mendadak mengaktifkan mode naganya, membuat Kris dan tiga temannya terhempas.

“Hahaha, karena dua nyamuk di pertempuran sebelumnya berhasil menggangguku, sekarang lawan mode spesialku!”

“Gawat! Dia sudah mengaktifkan mode naga! Aku harus pergi membantu.” seru Start

“Tunggu dulu, masih tersisa sepuluh menit. Mari kita lihat sampai detik itu tiba.” sebuah suara mendadak muncul dari belakang mereka berdua. Ghazi terperanjat melihatnya.

***

Empat orang itu tersengal-sengal, setelah melakukan pertarungan sejak tadi siang. Kris dan teman-temannya sepakat untuk memberikan satu serangan terakhir. Kalau lawannya masih bertahan, mereka kalah.

Tiga anak itu berjajar, mempersiapkan serangan. Ending juga melakukan hal yang sama. Lima puluh detik persiapan, mereka berempat melesat bersamaan.

“Serangan ganda : Penghancuran Garuda!”

“Ksatria angin : Tornado P-P-M-B”

Ledakan berdentum keras, Kris dan teman-temannya terhempas karena serangan tornado lawannya. Tiang angin itu berputar dahsyat, uniknya itu tidak bergerak kemanapun.

Start langsung mengaktifkan perisai, melindungi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sedangkan Kris dan dua temannya mencoba bertahan dengan cara sendiri.

Ending lah yang membuat tiang raksasa itu tidak bergerak kemanapun. Dia tahu bila diteruskan ini akan menjadi kekalahan. Maka ia harus membuka portal menuju klan itu.

Resikonya, dia tidak bisa bergerak kemana-mana. Melangkahkan kaki sedikit, tornadonya juga bergeser dan itu membatalkan proses PPMB. Pembukaan Portal Menuju Badai.

“Magma merah : Ksatria api”

Dari belakang Ending, seketika menyembur magma. Wajahnya langsung meringis, semoga saja akan ada keajaiban.

“Petir biru : Dinding”

Ah, untung saja aku masih beruntung, batinnya. Disana Ghadi Al-Chair berdiri dengan luka yang masih menganga.

“Ending! Cepat selesaikan urusanmu, aku akan menahannya!” teriak si elemental pertama. Si manusia naga kembali fokus, masih tersisa dua menit agar portalnya muncul.

“Wah, jadi kamu juga bangkit lagi?” tanya Ali

“Tentu bocah, kalian terlalu banyak untuk kami hadapi. Sedangkan replika Al-Ma’thar sudah dikuasai temanmu. Jadi rencana pamungkas dilakukan” jawabnya

“Tapi lukamu masih terbuka, loh. Tidak sakit?”

Si elemental pertama mendengus, pertanyaan seperti itu bagi dia tidak terlalu penting. Dan sekarang, ia dihadapkan lagi dengan lima orang baru. Meski tidak tahu siapa mereka, tetapi kekuatannya sepertinya cukup dahsyat.

Ilmuwan kesatu tiba-tiba berujar, “Waktunya sudah habis. Mari kita ambil sekarang juga.”

Dalam sekejap, orang berbaju putih itu tiba di dekat John. Anak itu terkejut, reflek dia menebas manusia di hadapannya.

Ilmuwan ketiga menangkapnya dengan tangan kosong. Lalu menariknya dengan paksa. John yang sudah kehabisan tenaga, tidak berdaya mempertahankannya.

“Sekarang mari kita pergi, kebetulan tiangnya sudah siap.”

Ilmuwan kelima berjalan mendekati tornado itu. Dia secara sengaja memasukkan tangannya kesana. Ending sampai mengernyit melihatnya, bukankah itu berbahaya.

“Pembukaan Portal Menuju Badai, aktiflah sekarang juga!” teriaknya

Portal itu seketika terbuka, putaran tornado itu mendadak melambat. Kelima ilmuwan itu memasukinya dengan langkah yang kokoh.

Ending dan Ghadi tidak mau melewatkan kesempatan ini. Begitu kelompok berbaju putih itu menghilang, mereka langsung masuk.

“Ikuti mereka! Kita harus mencegah mereka mendapatkan Al-Ma’thar yang asli!” perintah Start

“Baik Master!” seru lima anak itu

Satu menit kemudian, lapangan itu sudah lengang. Tornadonya pun menghilang. Petualangan baru kini sudah dimulai. Di sebuah klan bernama Badai.

 

(Tunggu sambungannya di judul Badai)