Ending : Dentuman yang Menari (Vol 10)

Angin malam berhembus kencang, mengibarkan rambut yang tersisir rapi. Ghadi memicingkan mata begitu melihat orang yang berdiri di hadapannya. Sedangkan Ending hanya memperlihatkan wajah waspada, sebagai manusia naga dia tidak takut apapun.

Dua orang itu melesat secara kompak. Mengayunkan benda tajamnya masing-masing. Lawannya langsung berubah ke wujud naga.

“Phoenix aurora”

“Hantaman kristal”

Makhluk besar itu mengaum kesakitan, dalam wujud naganya dia sampai terguling-guling. Si elemental pertama kembali mengayunkan Al-Ma’thar. Sayangnya, ayunan itu berhasil ditahan hanya memakai senjata kecil lawannya.

“Kamu rupanya berhasil mendapat replika senjata legendaris yang selalu dibicarakan ketika pertarungan kita dulu. Ghadi?” bisik orang itu. Suaranya sangat berwibawa.

“Tentu. Dan kali ini kamu tidak akan bisa lari, Shadow.” jawab Ghadi Al-Chair dengan tatapan sinis

“Hahaha, kalau begitu mari kita buktikan sekarang juga.”

“Apa yang akan terjadi?” tanya Ghadi tiba-tiba

“Hitam” jawab orang itu pendek dengan wajah menyeringai.

Si elemental pertama membuang napas. Hitam? Bagaimana itu bisa terjadi? Padahal sekarang dia dan Ending masih unggul.

Shadow mengayunkan senjatanya, dentingan yang dihasilkan cukup keras. Sementara itu, orang satunya menghadapi Ending. Dia tidak peduli dengan rasa takut. Yang di pedulikan cuman satu, mengalahkannya.

“Aurora merah”

Si naga masih berdiri tegak dan membalasnya dengan raungan cahaya. Orang itu berteleportasi ke punggung makhluk besar itu.

“Meteor : Bright Aurora”

Pedang itu menghantam kulit si naga dengan keras. Meski sudah menjadi naga, tetapi sebuah meteor terkadang tetap bisa membunuh makhluk besar itu.

Ending kembali ke wujud manusianya. Dia tidak bisa berubah ke mode hewannya sampai dua jam ke depan. Semoga saja bisa bertahan sampai detik itu, batinnya.

Sementara itu, si petarung pedang sedang mengingat peristiwa ketika tadi terkalahkan. Elemental cahaya tahap ketiganya benar-benar membantu.

***

Setelah tersabet oleh pedang Al-Ma’thar, John pingsan cukup lama. Tapi dia di dalam hati menghitung menit demi menit sampai terbangun lagi.

Di menit kelima belas setelah pingsan, matanya kembali terbuka. Anak itu melihat Master Start dan teman-temannya sedang menghadapi mode mata si manusia naga. Sementara Ghadi ketiduran dengan alas rumput.

Matanya mengamati tubuhnya diselimuti cahaya biru. Karena masih setengah sadar, John sempat panik melihatnya. Tapi dia mengingat kalau itu merupakan teknik penyembuhannya.

John memilih tiduran sebentar lagi. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara berdebum yang sangat keras. Anak itu membuka matanya dan melihat keempat temannya serta Master Start sudah kalah.

Anak itu menjadi sedih, dia bangun dan tanpa sadar matanya menjadi bersinar. Ghadi yang pertama kali melihatnya langsung menjadi sasaran. Begitulah kejadiannya sebelum momen yang sekarang.

Orang dengan rambut sedikit putih itu melompat ke udara. Lalu dia menukik ke bawah, bersiap untuk melayangkan pukulan anginnya. John tidak gentar, dia balas melayangkan tusukan cahayanya.

Darah mengucur dari sela-sela jari manis dan jari tengah si manusia naga. Tapi orang itu malah memperlihatkan ekspresi geram. Tidak puas kalau efeknya cuman berdarah seperti itu saja.

Pedang John masih berada di sela-sela jari musuhnya. Anak itu mencabutnya dengan cepat. Si manusia naga sampai mengangkat alisnya karena rasa sakitnya tetap terasa.

“Jangan senang dulu hanya karena berhasil melukaiku dalam pertarungan satu lawan satu! Berusahalah supaya aku terdesak baru aku mau mengakuimu!!” teriaknya

“Tentu, soalnya ini sudah jam sembilan. Dan aku belum solat tahu.” jawab John serius

Mereka berdua melesat horizontal, menabrakkan serangan masing-masing. Kali ini dentuman serta dentingan saling menghiasi lapangan rumput itu.

Senjata keris milik Shadow beradu dahsyat dengan pedang legendaris itu. Pecahan kristal bertebaran dalam area pertempuran mereka. Waktunya tersisa lima belas menit sebelum Kris mengambil alih tubuhnya lagi.

“Al-Ma’thar : Batu petir!”

“Keris sang raja : Kuda Putih Bersayap!!”

Asap menutupi mereka, menyisakan dua senyum jahat yang masih berkobar. Darah mengucur deras dari salah satu dua orang itu.

***

John terhempas sejauh sepuluh meter dari tempat bertarungnya. Tapi wajahnya masih memperlihatkan ekspresi pantang menyerah. Dia berteleportasi ke kiri lawannya, lalu melakukan tebasan berputar.

Ending melompat mundur menghindari serangan itu. Kemudian dia melompat setinggi dua puluh meter lalu menukik secara zig-zag. Anak berusia empat belas tahun itu tidak mau berdiam diri. Dia melesat vertikal menantang lawannya.

“Bright Aurora : Ribuan sinar!”

“Pukulan angin : Hujan tombak!”

Dua puluh detik setelah berkiriman serangan itu, darah sampai menetes perlahan dari mulut mereka. John meringis menahan sakit, dia langsung mengaktifkan mode penyembuhan.

Lawannya mendadak muncul dari depan anak itu. Mentargetkan kepala untuk diserang. John terkejut, dia berusaha melindungi diri dengan pedangnya. Tapi anak itu tetap terlempar dan jatuh berdebum ke tanah.

“Hahaha, lihatlah kondisimu. Sudah terluka dan jatuh dengan keras ke tanah. Kamu tidak akan bisa mengalahkanku, menyerah saja.” ucap si manusia naga sambil mengangkat kepalanya.

Tapi pedang itu berdiri kembali, John berusaha bangkit dengan memakai senjatanya sebagai penyangga. Dia mengelap mulutnya yang masih berdarah.

“Selama kalian berdua belum terkalahkan, aku tidak akan berhenti mengayunkan pedang ini!” Sebelum John melesat, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya. Anak itu menoleh ke belakang, terlihat Hamzah sedang berdiri.

“Aku tidak akan membiarkan temanku bertarung sendiri menghadapi musuh sekuat dia. Kita akan bertempur bersama.”

John tersenyum, dia lalu kembali menatap musuhnya. Dua anak itu menyentuhkan tangannya ke tanah dan menghilang dalam sekejap.

“Bersiap untuk ronde kedua!” teriak mereka bersamaan

Ending langsung mengaktifkan mode mata dan mengeluarkan serangan sinarnya. Bunyi dentuman kembali muncul ke permukaan.

Sementara itu, jarum pendek jam telah berada di angka sepuluh. Malam semakin pekat, apakah pertarungan ini berlangsung sampai pagi? Atau selesai beberapa jam lagi?

 

Bersambung ke : Ending (Vol 11)