Badai : Mengamati Dunia (Vol 1)

“Apa ini sungguhan di klan Badai? Kenapa kita berenang diatas air.” protes Ali

“Ini beneran sudah tiba. Hanya saja bila kamu masuk melalui portal, maka tujuan akhirnya tidak bisa diatur. Tapi para ilmuwan dari Delapan Kamera adalah pengecualian” seru Ghazi

Mereka berenam mendarat di sebuah danau yang sangat luas. Dan kini semuanya harus berenang mencapai pinggir. Ghazi memberi tahu namanya, Danau Awan.

Setelah tiba di pinggir, “Sudah basah begini, kita harus kemana.” keluh Kris

“Ke rumah Ghazi saja!” usul John

Ghazi mengacungkan jempol lalu berjalan memimpin. Sedangkan Start berjalan di belakang, sambil berjaga-jaga. Langit masih gelap, rupanya waktu disini tidak jauh berbeda dengan yang di luar.

“Ini dia rumahku, ayo cepat masuk.” ajak Ghazi

Di depan kami berdiri rumah dua tingkat dengan halaman yang ditumbuhi pepohonan. Di terasnya pun ada satu buah kursi kayu. Rumahnya cukup lengang. Ghazi bilang itu karena ibunya sudah tidur dan ayahnya masih kerja.

“Kamu anak tunggal?” tanya Hamzah penasaran

“Iya, jadi aku sangat puas bisa memainkannya sendirian ketika di rumah.” jawabnya dengan cengiran

Kamar mandinya ada dua, Start dan Ghazi yang membersihkan diri duluan. Kris dan tiga temannya duduk menunggu.

Selesai mandi, Start izin ke si pemilik rumah untuk berkeliling klan Badai. Ghazi tentu membolehkannya, malah anak itu senang bisa ngobrol-ngobrol privasi sama teman-temannya.

“Nih minum dulu. Kalian pasti haus kan bertarung sejak siang.” Ghazi menyodorkan empat buah gelas berisi air putih.

“Eh Ghazi, ayahmu memangnya pekerjaannya apa. Kok jam segini belum pulang?” tanya Ali

Anak itu menjentikkan jarinya, “Kalian lihat saja besok pas makan pagi. Ayahku pulang dua jam lagi.”

“Besok kamu sekolah?” kini John yang melemparkan pertanyaan

“Enggak, soalnya sekarang para muridnya masih magang. Kemudian ujian kenaikan tingkat. Jadi aku yang kebetulan sudah selesai duluan, tinggal bikin laporan.” jelasnya

Suasana hening sejenak. Kemudian Ghazi mengajak mereka masuk ke kamarnya untuk istirahat. Kamar itu cukup luas, bahkan ada dua rak buku tiga tingkat berukuran besar.

Anak itu memencet sebuah tombol, mendadak keluar empat buah kasur lagi. Hamzah tanpa banyak bicara langsung merebahkan tubuhnya. Lampu dimatikan, semuanya terlelap dengan nyenyak.

***

“Teman-teman, ayo bangun. Udah jam setengah enam.” seru Ghazi. Tiga orang dalam sekejap langsung terbangun. Tinggal Hamzah yang masih tertidur.

Mereka berempat saling mengedipkan matanya. Mau mengusili Hamzah sampai terbangun. Ali memulainya dengan menggelitiki kaki temannya.

Tidak sampai menunggu lama, Hamzah langsung melompat terkejut. Melihat teman-temannya cekikikan, tangannya menjadi terkepal. Kris dan yang lainnya langsung minta maaf.

Mereka salat Subuh berjamaah di kamar. Kata Ghazi, ayah dan ibunya masih tidur. Sempat ribut siapa yang mau jadi imam, tapi Ali mengusulkan yang paling tua. Dan akhirnya John maju.

“Kita sekarang ngapain nih, Ghazi. Masih jam enam pagi.” ujar Kris

“Sepedaan aja, yuk. Sekalian lihat-lihat lingkungan klan Badai. Master Start juga belum pulang, nih.” jawabnya

“Loh, emang kamu punya banyak ya?” tanya John

“Iya, temen-temenku banyak yang belum punya sepeda. Atau mungkin tidak mempedulikannya karena ada teknologi canggih. Jadinya aku memulainya terlebih dahulu dengan membeli sepeda pakai uangku sendiri terus kupinjemin ke mereka.”

Udara pagi masih cukup dingin. Tapi mereka tidak mempedulikannya, malah segar bisa menghirupnya. Ghazi membuka sebuah pintu, mungkin gudang. Disana terlihat lima buah sepeda gunung disusun berbaris.

“Untuk membayangkan sebuah klan yang mengikuti angin dengan pemandangan sesegar ini, sangat unik.” komentar Hamzah

“Tentu dong, klanku ini kan memang hebat.” ujar Ghazi

Tiba-tiba mereka melihat Master Start tertidur di sebuah bangku. Kris menghampirinya dan menggoyang-goyangkan orang itu.

Start langsung terbangun dan sempat terkejut melihat kehadiran lima anak di sekitarnya. Tapi ketika sepenuhnya tersadar, ekspresinya kembali datar.

“Master Start, empat puluh menit lagi makan pagi. Ayo balik ke rumah.” ajak Ghazi

“Kalian lagi sepedaan ya. Master ikut olahraga ya, lari pagi.”

“Oh, oke Master Start”

Setelah selesai berolahraga pagi, mereka langsung balik ke rumah. Sesampainya di halaman, terlihat seseorang sedang duduk di kursi.

“Ghazi, rupanya kamu habis sepedaan ya. Ayah cari-cari dari tadi enggak ketemu.” ujarnya

“Iya Ayah, maaf aku enggak pamit.”

“Loh, anda kan yang sebelumnya?” tanya orang itu terkejut. Start juga mengernyit, apa maksudnya? Tapi dia seperti pernah melihat orang ini. Entah mengapa ia tidak berhasil mengingatnya.

“Teman-teman, kenalin ini ayahku. Kalian sebenarnya sudah pernah bertemu dengannya, tapi waktu itu sedang dalam pertempuran. Ayahku ini ketua dari Delapan Kamera, loh.” jelas Ghazi riang

Start, Kris dan tiga temannya terkejut. Pantas saja kayak pernah melihatnya, tapi kenapa penampilannya seperti berbeda, batin Start.

Setelah selesai makan pagi, mereka semua saling berbincang. Membahas tentang Ghadi dan Ending yang mencari senjata legendaris versi asli.

“Oh, jadi mereka mau mencari versi aslinya? Tapi sepertinya dua orang itu meremehkan penjagaan yang dibuat kami.” kata ayah Ghazi serius

“Memangnya kenapa pak?” John bertanya penasaran

“Karena barang itu disimpan dalam sebuah ruangan yang memiliki kata sandi sulit. Dan juga, kalian harus melewati ‘Seratus Rintangan Kematian’. Kata sandi itu tidak bisa diretas apalagi ditebak. Tapi ada pengecualian.” jelasnya

Enam orang itu menunggu apa pengecualiannya. “Pengecualiannya adalah ada seseorang dari para petinggi Delapan Kamera yang membocorkan kata sandinya. Para petinggi itu aku sebagai ketua, ilmuwan keempat dan ilmuwan ketiga. Bila orang yang kalian kejar mengetahuinya, maka seorang pengkhianat telah muncul.”

Kris dan teman-temannya menggeleng-gelengkan kepala takjub. Berarti teknologi kata sandinya sangat canggih. Bahkan untuk membukanya, seorang pengkhianat ‘sangat dibutuhkan’.

“Tapi asal kalian tahu. Sudah puluhan tahun sejak senjata itu dibuat, tidak ada pembobolan. Artinya, tidak pernah ada yang berkhianat.” Ghazi menambahkannya dengan nada bangga.

Start manggut-manggut mengerti, itu berarti mereka bisa sedikit santai mengalahkan lawannya kali ini. Lagi pula kata ayah Ghazi, senjata aslinya tidak dipecah-pecah dan utuh di dalam ruangan rahasia itu.

***

“Heh, apa-apaan ini. Kenapa kita mendarat diantara pepohonan besar itu. Sangat menyakitkan.” Ending menggeram

“Tubuhku sangat pegal tergantung diantara dahan besar itu. Dasar portal menyebalkan.” timpal Ghadi

“Jadi sekarang kita kemana? Kamu tahu lokasi Al-Ma’thar asli?”

“Yang jelas kita cari air dulu, bersih-bersih. Untung saja baju kita bisa mengeringkan air dengan cepat, sehingga tidak perlu ganti.” jawab si elemental pertama.

Ending mendengus, perkataan rekannya ada benarnya juga. Tubuh mereka sangat penuh dengan debu. Untung saja, dua orang itu tiba di Danau Awan. Lokasi mendarat mereka rupanya tidak terlalu jauh dari air.

Setelah baju mereka sepenuhnya kering, Ghadi merasakan kehadiran seseorang. Tanpa melihat ke arahnya, dia bertanya, “Apa urusanmu disini?”

Orang itu seperti gugup, mau berbicara tapi mulutnya tertutup lagi. Melihat dua ‘legenda’ di hadapannya mau beranjak pergi, akhirnya ia menjawab.

“Master Ghadi dan Master Ending, aku telah menunggu selama ini. Aku menyukai kisah-kisah kalian, bahkan kisah para ‘hero’ itu tidak menarik dibanding cerita kalian. Karena itu izinkan aku memberikan bantuan. Yang sangat berguna.”

Alis si manusia naga dan elemental pertama terangkat mendengar tawaran itu. Sangat menarik, tapi mungkin membutuhkan waktu. Tidak ada salahnya untuk mencoba.

***

“Teman-teman, Master Start. Karena hari ini ayahku tidak terlalu sibuk, kita diajak ke markas Delapan Kamera. Kalian mau?” tanya Ghazi tiba-tiba

“Boleh, sekalian memperhatikan langkah lawan kita berikutnya.” jawab Start tegas

Tujuan baru telah ditetapkan, berkunjung ke markas para ilmuwan besar dari klan ini. Sesuatu seperti apakah yang sudah menanti?

 

Bersambung ke : Badai (Vol 2)