Badai : Rencana Semua Orang (Vol 4)

“Anak-anak, inilah dia hasil dari penemuan baru para ilmuwan klan Badai!” seru ayah Ghazi bersemangat. Benda itu berbentuk lingkaran kristal kecil dengan sinar yang menyala-nyala di sekelilingnya.

“Jadi bagaimana cara menggunakannya, paman?” tanya Hamzah

Ayah Ghazi tidak menjawab. Tapi dia menyuruh mengikutinya ke ruangan uji coba. Supaya lebih leluasa menggunakannya. Setelah tiba, ia memberikan benda itu satu per satu.

“Benda ini aku beri nama Sirkanik. Dan lebih berguna bila kalian memasangkannya ke senjata masing-masing. Seperti ini.” benda itu didekatkan ke pedang yang dipegang ayah Ghazi.

Tiba-tiba, Sirkaniknya langsung menjadi satu bagian yang utuh dengan benda tajam itu. Meski sudah ditarik-tarik pun tidak lepas.

Si ilmuwan pertama mengayunkan pedangnya dengan cepat. Mendadak sebuah sinar yang sangat terang menutupi ruangan itu. Kris dan teman-temannya menutup matanya.

Sinarnya baru hilang satu menit kemudian. “Lihat, begitulah cara kerja benda ini. Bila kalian menggunakannya dalam pertempuran, jangan lupa pakai kacamata anti terang ya. Supaya tidak terganggu.”

“Apa itu juga bisa dipasang ke peralatan teknologiku?” tanya Ali

“Tentu bisa, mana coba misalnya.”

Ali mengeluarkan alat tempur lasernya. Ayah Ghazi mendekatkan Sirkanik ke sana, dalam sekejap itu sudah menyatu.

“Nah, kalau begini maka lasermu bisa mematikan bagi mata musuhmu.”

John juga penasaran, dia mendekatkan kristalnya ke pedang miliknya. Fenomena yang sama pun terjadi. Anak itu menyeringai, kalau begitu sekarang elemental cahayanya makin berbahaya.

“Raja aurora : Sinar malam”

Dia mengayunkan pedangnya ke lantai. Dalam sekejap bunyi berdentum terdengar, bersamaan sinar yang cukup panas terasa.

“Ayunanmu sangat cepat. Sampai-sampai kekuatan panas matahari terkeluar juga.” puji si ketua ilmuwan

“Dengan begini, apakah kita bisa menang melawan tiga orang itu?” tanya Hamzah

“Kalau itu, maka jawabannya tergantung kondisinya.”

***

“Hmm, jadi ini benda yang lagi kamu kerjakan. Sepertinya cukup berguna.” ujar Ending

“Tentu saja berguna, master. Simpan itu dan nanti kita gunakan ketika Al-Ma’thar sudah diambil.” jawab Si Tubuh Tinggi

Ghadi mendesah di dekat jendela. Ia sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan rahasia yang kurang luas ini.

“Hei, bukankah yang mau kamu singkirkan masih belum selesai? Kenapa tidak sekarang saja?” tanyanya

“Oh, tentu. Ini aku baru mau berangkat.”

Dia sudah menghilang, berteleportasi ke rumah ilmuwan kelima. Orang itu mengetuk pintunya, dan bersikap seakan-akan mau bertamu.

Ilmuwan kelima membukakan pintu. Dan dia senang melihat siapa yang datang. Sebagai sesama ilmuwan termuda, mempunyai rekan yang hampir seumuran benar-benar beruntung.

“Kamu juga mendapatkan benda yang baru jadi itu?” tanya Si Tubuh Tinggi

“Tentu, ketua tidak pernah membeda-bedakan bawahannya.”

“Oiya, apa kamu sudah mendengar kabar kalau minggu ini seseorang telah mencoba melakukan penyusupan ke ruangan rahasia?” si ilmuwan kelima bertanya dengan mimik serius

“Oh, sudah! Sebagai penjaga kode rahasia, penyusup itu terlalu berani melangkah. Mereka tidak memperhitungkan kekuatan para petinggi.”

Suasana hening sejenak. “Kenapa, kamu membantu mereka?” Si kelima langsung memecahnya dengan pertanyaan seperti itu.

Kening Si Tubuh Tinggi berkerut. Tapi dia terkekeh pelan, “Apa maksudmu kelima? Aku ini penjaga kode rahasia, tidak mungkin aku membantu mereka.”

“Tapi, waktu itu cuman kamu saja yang alasa-” Dia sudah jatuh tertidur ke lantai. Lawan bicaranya terkekeh jahat. Tinggal satu lagi maka yang perlu dia lawan cuman ketuanya saja.

***

Jauh dari sana, Start dan Si Ilmuwan Pertama sedang berdiskusi. Mereka membahas tentang rencana yang akan dilakukan ketika sudah berhadapan dengan lawan. Di sisi lain, Kris dan yang lainnya masih semangat mencoba peralatan baru itu.

“Jadi menurut anda, keamanan ruangan rahasia itu harus diperketat?”

“Iya. Seratus rintangan itu masih kurang kokoh bagi lawan kita. Malah sebenarnya tanpa bantuan pengkhianat pun tetap hancur juga. Orang bernama Ending itu bisa berubah menjadi naga, jadi Anda tahu kan jawabannya. Mungkin waktu itu ia cuman menahan diri.”

“Apa ide anda?”

“Tambahkan rintangan untuk menangkal naga. Lalu buat kode baru dan yang mengetahuinya cuman anda.” jawab Start

Lawan bicaranya merenung. Seharusnya ia membicarakan hal ini dengan empat ilmuwan lainnya. Tapi karena salah satu petinggi sudah membocorkan kode, apa boleh buat.

“Untuk masalah penangkal naga. Kita tinggal buat sebuah tiang penuh duri yang terbuat dari baja dan tingginya tujuh ratus meter. Maka wujud naga itu tidak bisa leluasa memasukinya.” Start menjelaskan idenya

“Yang benar saja!? Tiang setinggi tujuh ratus meter harus diselesaikan hari ini juga!?” ayah Ghazi berseru terkejut

Tapi itu cuman berlangsung sebentar. Dalam sekejap, ia sudah mengambil hapenya. Lalu memberi tahu rekannya untuk membuat tiang super tinggi itu. Semuanya langsung menerimanya, meski tahu itu sangat mustahil.

***

Si Tubuh Tinggi mendesah, Ghadi bertanya alasannya. “Ketuaku baru saja menyuruh untuk membuat tiang tujuh ratus meter. Dan harus selesai sore nanti.”

“Ahaha, buat apa benda itu. Sangat memboroskan peralatan.” Ending tertawa lebar

Ilmuwan itu mengangkat bahu. Sebelum sempat menanyakan alasannya, orang di seberang sudah mematikan telepon.

“Mmhh! Mmhh!” Si kedua dan kelima yang dikurung dalam penjara baja berusaha berseru. Tentu saja mereka tidak terima diperlakukan seperti ini.

“Kalau begitu, kita akan melakukan rencana dua sisi. Aku akan berangkat menyelesaikan benda itu. Dan master menyusup ke ruangan rahasia ketika aku dan yang lain sibuk membuatnya.”

“Bagaimana dengan kodenya?”

Ilmuwan itu mengambil sebuah kertas dan menuliskannya. Rencana mereka harus mulai dilakukan sekarang. Supaya besok tinggal membuat keributan.

Semua orang kini sudah melakukan rencana masing-masing. Untuk menyambut hari dimana pertempuran terakhir tiba.

 

Bersambung ke : Badai (Vol 5)